Wednesday, September 15, 2010

Limbah Plastik dan Cara daur Ulangnya



Seiring dengan bertambahnya jumlah manusia yang ada di bumi, maka semakin banyak pula kebutuhan yang harus dipenuhi. Akibat dari semakin bertambahnya tingkat konsumsi masyarakat serta aktivitas lainnya maka bertambah pula buangan/limbah yang dihasilkan. Industri selain menghasilkan produk juga menghasilkan limbah.
Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga, yang lebih dikenal sebagai sampah), yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis. Jenis limbah pada dasarnya memiliki dua bentuk yang umum yaitu; padat dan cair.

Limbah/buangan yang ditimbulkan dari aktivitas dan konsumsi masyarakat ini sering disebut limbah domestik atau sampah. Limbah tersebut menjadi permasalahan lingkungan karena kuantitas maupun tingkat bahayanya mengganggu kehidupan makhluk hidup lainnya. Selain itu aktifitas industri yang kian meningkat tidak terlepas dari isu lingkungan
Komposisi limbah domestik di setiap kota atau negara bervariasi, namun umumnya mengikuti persentase yang hampir sama yakni sebagai berikut:

1. Sampah kertas dan katun ±35%
2. Logam ±9%
3. Gelas ±5%
4. Sampah halaman & dapur ±37%
5. Kayu ±3%
6. Plastik ±7%
7. Lain-lain ±6%

Dan bila limbah industri ini dibuang langsung ke lingkungan akan menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan. Limbah dihasilkan pada umumnya akibat dari sebuah proses produksi yang keluar dalam bentuk scrapt atau bahan baku yang memang sudah bisa terpakai. Dalam sebuah hukum ekologi menyatakan bahwa semua yang ada di dunia ini tidak ada yang gratis. Artinya alam sendiri mengeluarkan limbah akan tetapi limbah tersebut selalu dan akan dimanfaatkan oleh makhluk yang lain. Prinsip ini dikenal dengan prinsip Ekosistem dimana makhluk hidup yang ada di dalam sebuah rantai pasok makanan akan menerima limbah sebagai bahan baku yang baru.




Limbah Plastik

Salah satu limbah padat yang menjadi masalah besar bagi lingkungan adalah limbah plastik. Nama plastik mewakili ribuan bahan yang berbeda sifat fisis, mekanis, dan kimia. Secara garis besar plastik dapat digolongkan menjadi dua golongan besar, yakni plastik yang bersifat thermoplastic dan yang bersifat thermoset. Thermoplastic dapat dibentuk kembali dengan mudah dan diproses menjadi bentuk lain, sedangkan jenis thermoset bila telah mengeras tidak dapat dilunakkan kembali. Plastik yang paling umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah dalam bentuk thermoplastic.
Seiring dengan perkembangan teknologi, kebutuhan akan plastik terus meningkat. Sialnya, plastik adalah bahan yang sangat sulit untuk diuraikan oleh alam. Data BPS tahun 1999 menunjukkan bahwa volume perdagangan plastik impor Indonesia, terutama polipropilena (PP) pada tahun 1995 sebesar 136.122,7 ton sedangkan pada tahun 1999 sebesar 182.523,6 ton, sehingga dalam kurun waktu tersebut terjadi peningkatan sebesar 34,15%. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat pada tahun-tahun selanjutnya. Sebagai konsekuensinya, peningkatan limbah plastikpun tidak terelakkan. Komposisi sampah atau limbah plastik yang dibuang oleh setiap rumah tangga adalah 9,3% dari total sampah rumah tangga. Di Jabotabek rata-rata setiap pabrik menghasilkan satu ton limbah plastik setiap minggunya. Jumlah tersebut akan terus bertambah, disebabkan sifat-sifat yang dimiliki plastik, antara lain tidak dapat membusuk, tidak terurai secara alami, tidak dapat menyerap air, maupun tidak dapat berkarat, dan pada akhirnya akhirnya menjadi masalah bagi lingkungan.
Plastik juga merupakan bahan anorganik buatan yang tersusun dari bahan-bahan kimia yang cukup berahaya bagi lingkungan. Limbah daripada plastik ini sangatlah sulit untuk diuraikan secara alami. Untuk menguraikan sampah plastik itu sendiri membutuhkan kurang lebih 80 tahun agar dapat terdegradasi secara sempurna. Oleh karena itu penggunaan bahan plastik dapat dikatakan tidak bersahabat ataupun konservatif bagi lingkungan apabila digunakan tanpa menggunakan batasan tertentu. Sedangkan di dalam kehidupan sehari-hari, khususnya kita yang berada di Indonesia,penggunaan bahan plastik bisa kita temukan di hampir seluruh aktivitas hidup kita. Padahal apabila kita sadar, kita mampu berbuat lebih untuk hal ini yaitu dengan menggunakan kembali (reuse) kantung plastik yang disimpan di rumah. Dengan demikian secara tidak langsung kita telah mengurangi limbah plastik yang dapat terbuang percuma setelah digunakan (reduce). Atau bahkan lebih bagus lagi jika kita dapat mendaur ulang plastik menjadi sesuatu yang lebih berguna (recycle). Bayangkan saja jika kita berbelanja makanan di warung tiga kali sehari berarti dalam satu bulan satu orang dapat menggunakan 90 kantung plastik yang seringkali dibuang begitu saja. Jika setengah penduduk Indonesia melakukan hal itu maka akan terkumpul 90×125 juta=11250 juta kantung plastik yang mencemari lingkungan. Berbeda jika kondisi berjalan sebaliknya yaitu dengan penghematan kita dapat menekan hingga nyaris 90% dari total sampah yang terbuang percuma. Namun fenomena yang terjadi adalah penduduk Indonesia yang masih malu jika membawa kantung plastik kemana-mana. Untuk informasi saja bahwa di supermarket negara China, setiap pengunjung diwajibkan membawa kantung plastik sendiri dan apabila tidak membawa maka akan dikenakan biaya tambahan atas plastik yang dikeluarkan pihak supermarket.
Pemanfaatan limbah plastik merupakan upaya menekan pembuangan plastik seminimal mungkin dan dalam batas tertentu menghemat sumber daya dan mengurangi ketergantungan bahan baku impor. Pemanfaatan limbah plastik dapat dilakukan dengan pemakaian kembali (reuse) maupun daur ulang (recycle). Di Indonesia, pemanfaatan limbah plastik dalam skala rumah tangga umumnya adalah dengan pemakaian kembali dengan keperluan yang berbeda, misalnya tempat cat yang terbuat dari plastik digunakan untuk pot atau ember. Sisi jelek pemakaian kembali, terutama dalam bentuk kemasan adalah sering digunakan untuk pemalsuan produk seperti yang seringkali terjadi di kota-kota besar
Pemanfaatan limbah plastik dengan cara daur ulang umumnya dilakukan oleh industri. Secara umum terdapat empat persyaratan agar suatu limbah plastik dapat diproses oleh suatu industri, antara lain limbah harus dalam bentuk tertentu sesuai kebutuhan (biji, pellet, serbuk, pecahan), limbah harus homogen, tidak terkontaminasi, serta diupayakan tidak teroksidasi. Untuk mengatasi masalah tersebut, sebelum digunakan limbah plastik diproses melalui tahapan sederhana, yaitu pemisahan, pemotongan, pencucian, dan penghilangan zat-zat seperti besi dan sebagainya
Terdapat hal yang menguntungkan dalam pemanfaatan limbah plastik di Indonesia dibandingkan negara maju. Hal ini dimungkinkan karena pemisahan secara manual yang dianggap tidak mungkin dilakukan di negara maju, dapat dilakukan di Indonesia yang mempunyai tenaga kerja melimpah sehingga pemisahan tidak perlu dilakukan dengan peralatan canggih yang memerlukan biaya tinggi. Kondisi ini memungkinkan berkembangnya industri daur ulang plastik di Indonesia.

2. Daur ulang plastik

2.1 Bahan Baku
Pemanfaatan plastik daur ulang dalam pembuatan kembali barang-barang plastik telah berkembang pesat. Hampir seluruh jenis limbah plastik (80%) dapat diproses kembali menjadi barang semula walaupun harus dilakukan pencampuran dengan bahan baku baru dan additive untuk meningkatkan. Ada empat jenis limbah plastik yang populer dan laku di pasaran yaitu :
1. Polietilena (PE), Biasanya dipakai untuk kemasan botol 2-literan minuman soft drink, botol air mineral, botol minyak minyak goreng, toples selai kacang serta mentega.
2. High Density Polyethylene (HDPE), Biasanya dipakai sebagai kemasan deterjen, serta susu
3. Polipropilena (PP), Dipakai untuk membuat tutup botol, sedotan, dan botol yoghurt


2.2. Jalur Daur Ulang

Sampah daur ulang dikumpulkan dari sumber seperti perumahan, kawasan komersial, tempat Penampungan Sementara (TPS) dan TPA. Kebanyakan sampah daur ulang dikumpulkan oleh pemulung dan kemudian dijual (disalurkan) ke pelapak. Pelapak memilah dan mengklasifikasikannya ke beberapa item tergantung pada tipe dan menjual atau menyalurkannya kepada pabrik daur ulang secara langsung atau terlebih dahulu melalui agen. Sebagian sampah ini didaur ulang di kota yang bersangkutan, tetapi kebanyakan dikirimkan ke kota lain atau diekspor ke luar negeri. Secara teknis, sampah dikirim dari sumber (perumahan, industri dan pasar) oleh masyarakat ke TPS atau ke truk sampah. Di beberapa kota, hanya sedikit sumber sampah yang mengirimkan sampah mereka ke
TPS. Kebanyakan rumah tangga juga tidak melakukan pemilahan sampah.
2.3 Proses daur ulang plastik
Setelah bahan baku plastik terkumpul dan sampai di pabrik daur ulang. Plastik akan mengalami beberapa tahapan sebelum dapat dipakai kembali. Pada umumnya proses daur ulang plastik untuk pabrik besar maupun pabrik yang lebih kecil hampir sama. Hanya berbeda mesin saja. Umumnya tahapan daur ulang plastik adalah sebagai berikut

1) Pemisahan
Pernah melihat salah satu simbol diatas pada plastik yang anda gunakan? Ini adalah simbol yang menyatakan jenis plastik yang anda gunakan.
1 – PETE, atau “polyethylene terephtalate”
Adalah nomor yang mungkin paling sering anda lihat, dipakai sebagai kemasan minuman soda dan air mineral, kemasan makanan/minuman, serta prabotan yang aman dimasukkan dalam microwave. Ketika hasil daur ulang PETE dicetak kembali, biasanya akan dipakai sebagai rak plastik, tas, serta karpet, beberapa mungkin akan dijadikan botol kebali, tetapi tidak begitu umum.

2 – HDPE, atau “high density polyethylene”
Sejenis dengan PETE, tetapi dipakai untuk kemasan yang lebih keras, seperti deterjen, sampo, minyak, dan kantong samph yang lebih berat. Karena sifatnya yang rigid, HDPE biasa dipakai untuk membuat botol baru, pipa plastik, dan blakangan ini uga digunakan sebagai bahan kayu sintetis.

3 – PVC, V atau “vinyl”
PVC umumnya dipakai dalam pembuatan pipa, insulator, dan beberapa prabotan rumah tangga, bahkan alat-alat medis. Sayangnya PVC adalah salah satu plastik yang sangat sulit untuk didaur ulang. Alasannya tidak lain adalah kandungan klorin yang sangat tinggi. Saat didaur ulang PVC dapat menghasilkan gas klorin yang sangat berbahaya

4 – LDPE, atau “low density polyethylene”
Tahan lama tetapi fleksibel. Dipakai dalam pembuatan kantong plastik, kemasan makanan beku, kadang-kadang dapat ditemukan dalam beberapa jenis pakaian. Seperti vinil, LDPE masih sulit untuk didaur ulang.

5 – PP, atau “polypropylene”
Dipakai sebagai kemasan makanan/minuman yang biasanya terlalu panas untuk jenis plastik lainnya seperti yoghurt, kopi panas, dan botol obat. Biasanya didaur ulang menjadi tray, cashing ringan, sikat dan prabotan rumah tangga lainnya.

6 – PS, atau “polystyrene”
Sebagian besar piring, gelas, wadah makanan sekal pakai menggunakan bahan plastik ini, Styrofoam adalah salah satu jenis merek dagang untuk plastik jenis ini. Sering disebut “piring busa” karena sifat ringan dan kakunya. Di daur ulang untuk membuat kemasan baru.

7 – Other, plastik lainnya
Sebagian besar plastik O tidak didaur ulang. Tetapi jenis plastik ini kerap ada dalam kehidupan kita. Kepingan DVD, casing HP, bahkan pleksiglass dan material anti-peluru diuat dengan plastik jenis ini.

Jenis-jenis plastik ini harus dipisahkan sebelum diproses lebih lanjut. Pemisahan bisa dilakukan secara manual atau dengan bantuan mesin.

2. Penghancuran
Penghancuran menggunakan mesin shredder akan menghancurkan dan memotong-motong plastik sehingga bahan baku plastik yang semula memiliki bentuk yang bemacam-macam menjadi homogen. Umumnya plastik akan diubah menjadi daun plastik oleh mesin ini. Setelah selesai menjalani proses ini akan dipindahkan melalui conveyor belt menuju proses berikutnya.

3. Pembersihan
Daun plastik akan dibersihkan, melalui mesin springkler/washer menggunakan air. Tujuannya adalah agar kotoran-kotoran yang masih menempel seperti lem, kertas, tinta, dan lainnya lepas dari plastik sehingga lastik yang didaur ulang bersih dari kotoran yang tidak diinginkan.

4. Penghancuran halus dan sparator
Setelah bersih plastik masuk ke mesin shredder yang akan menghasilkan daun yang lebih kecil lagi. Disini kotoran yang masih ikut bersama denagn plsstik di pisahkan dengan menggunakan mesin separator, biasanya separator menggunakan blower dan air sebagai media pemisahan, blower akan meniup kotoran yang ringan sedangkan air akan meneggelamkannya.

5. Pengeringan
Tahap berikutnya adalah pengeringan. Daun plastik yang tadinya basah di separator akan dikeringkan oleh mesin sebelum dibawa ke tungku pemanas. Hal ini dilakukan untuk menhindari reaksi air saat dilakukan pencetakan yang bisa membuat plastik menjadi cacat.

6. Granulasi
Granulasi adalah proses pencetakan plastik menjadi granule atau pallet. Plastik yang menjadi bahan baku akan masuk kedalam silo yang kemudian dipanaskan sampai suhu tertentu kemudian dicetak menjadi butiran-butiran untuk selanjutnya dilakukan proses produksi lebih lanjut yang akan menghasilkan produk plastik siap pakai


Hal-hal kecil yang dapat kita lakukan
Kita bisa mulai mengurangi sampah plastik kita dengan bukan tidak memakainya tetapi menggantikannya.
1. Kurangi pemakaian kantong plastik untuk belanja. Bawa sendiri tas belanjan yang dapat selalu dipergunakan lagi.
2. Jangan langsung buang botol plastik sesudah minum. Isi air lagi dan pakai kembali walaupun jangan terlalu banyak isi ulang
3. Untuk yang biasa minum di mobil, siapkan selalu botol yang sudah diisi penuh agar tidak usah beli lagi.
4. Lebih baik lagi beli botol minum jadi bisa selalu diisi ulang dan tidak usah beli botol air mineral lagi.
5. Di negara barat banyak cafe seperti Starbucks sudah mulai membolehkan customer membawa sendiri cangkir atau lebih baik thermos untuk diisi kopi. Kantong plastik masih bisa digunakan lagi. Tapi kalau gelas plastik hanya bisa sekali saja.
Kadang hal ini juga sulit kalau tidak disisipkan dengan insentif untuk para customer. Padahal kalau kita tidak memakai kantong plastik atau gelas plastik dari cafe juga akan mengurangi biaya mereka sehingga menambah untung.
Jadi di negara-negara barat sudah banyak pengusaha yang mau ikut membantu memberikan insentif seperti supermarket yang memberikan diskon bila tidak menggunakan kantong plastik mereka seperti ALDI atau Albertsons. IKEA malah akan memaksa pelanggan untuk membayar untuk kantong plastik. Dengan ini IKEA mengharapkan pelanggan akan mengurangi pemakaian kantong plastik yang mencapai 70 juta kantong per tahun hanya untuk di Amerika.
Singapura mulai menetapkan hari-hari tertentu sebagai “Bring Your Own Bag” Day dimana pelanggan diharuskan membawa kantong mereka sendiri dan yang tidak membawa diharuskan membayar 30 cents yang akan digunakan untuk kegiatan lingkungan. Kantong belanja yang dapat digunakan kembali sekarang menjadi laku keras di Singapura
Bagaimana dengan kita di Indonesia? Apakah kita harus merasa malu untuk menenteng kantong belanja sendiri? Takut dilihat dan ditertawakan orang? Malah kita harus menertawakan mereka yang tidak mengerti akan pentingnya lingkungan dan kurangnya kesadaran untuk mengurangi sampah. Sekarang juga sudah banyak tas belanja dengan design yang unik dan funky juga sehingga anak-anak muda juga tidak merasa minder. Botol minum juga sudah semakin keren jadi tidak merasa seperti anak TK yang membawa botol minum.

4 komentar:

Jasa Seo said...

kalau bisa daur ulang kan bagus juga ya

Putu Sukma Kurniawan said...

Jasa SEO : Bener... Biar limbahnya tidak terlalu mencemari lingkungan... Terimakasih kunjungannya

Willy said...

Gimana caranya mendaurulang kantong plastik atau kresek? Karena saya mempunyai usaha laundry yang mana banyak pelanggan yang membawa kantong plastik ... Saaya binggung cara mendaur ulangnya, kalau saya buang di tong sampah takut sukit sekali diuraii oleh bumii.. Mohon pencerahaannya

Putu Sukma Kurniawan said...

Willy : Kalau bisa sih kantong plastik yang dibawa oleh pelanggan dikembalikan kembali ke pelanggan. Sehingga usaha laundry anda tidak menumpuk banyak sampah plastik. Atau cara lain dengan membuat kantong kresek yang berisi merk laundry anda yang dapat digunakan berulang kali oleh pelanggan bila ingin laundry di tempat usaha anda. Terimakasih kunjungan nya

Post a Comment