Friday, April 8, 2011

Singapore Mass Rapid Transit (SMRT) : Solution Transportation Problem In Singapore






Singapore Mass Rapid Transit atau MRT Singapura adalah sebuah sistem angkutan cepat yang membentuk satu kesatuan dari sistem kereta api di Singapura dan membentang ke seluruh negara kota ini. Bagian pertama dari SMRT ini, antara Stasiun Yio Chu Kang dan Stasiun Toa Payoh, dibuka tahun 1987 dan menjadi sistem angkutan cepat tertua kedua di Asia Tenggara, setelah sistem LRT Manila. Jaringan ini telah berkembang cepat sebagai hasil dari tujuan dari Singapura untuk mengembangkan jaringan kereta yang lengkap sebagai faktor utama dari sistem angkutan umum di Singapura dengan perjalanan penumpang harian rata-rata 1,952 juta jiwa tahun 2009, hampir 63% dari 3,085 juta penumpang jaringan bus pada waktu yang sama. SMRT memiliki 79 stasiun dengan jalur sepanjang 129,7 kilometer dan beroperasi pada rel standar. Jalur rel ini dibangun oleh Land Transport Authority, sebuah badan milik Pemerintah Singapura yang memberi konsesi operasi kepada perusahaan laba SMRT Corporation dan SBS Transit. Operator-operator ini juga mengelola layanan bus dan taksi, sehingga menjamin adanya integrasi penuh layanan angkutan umum. SMRT ini dilengkapi oleh sistem Light Rail Transit (LRT) regional yang menghubungkan stasiun MRT dengan perumahan umum HDB. Layanan ini beroperasi mulai pukul 05:30 pagi waktu setempat dan berakhir sebelum pukul 01:00 pagi waktu setempat setiap hari dengan frekuensi tiga sampai delapan menit, dan layanan ini diperpanjang selama hari-hari libur.
Sejarah pembangunan dari MRT Singapura bermula dari ramalan perencanaan kota pada tahun 1967 dimana pada tahun 1992 diperlukan sistem transportasi kota di atas rel. Diawali sebuah debat, akhirnya parlemen Singapura menyimpulkan bahwa sistem transportasi hanya menggunakan bus tidak akan mencukupi karena akan memerlukan jalur jalan dengan adanya batasan lahan di negara tersebut. Biaya konstruksi awal MRT sebesar 5 milyar dolar Singapura adalah biaya termahal yang pernah dikeluarkan untuk sebuah proyek pada waktu itu, yang dimulai pada 22 Oktober 1983 di Jalan Shan yang terdapat di pusat kota Singapura. Jaringan SMRT dibangun bertahap dimana Jalur Utara-Selatan diutamakan karena melewati daerah pusat kota yang sangat memerlukan transportasi publik. Mass Rapid Transit Corporation (MRTC), selanjutnya diganti menjadi SMRT Corporation didirikan pada 14 Oktober 1983 untuk mengelola otoritas MRT. Pada 7 November 1987, bagian pertama dari Jalur Utara-Selatan mulai beroperasi yang terdiri dari lima stasiun dengan jarak enam kilometer. Lima belas stasiun lagi kemudian dibuka dan MRT Singapura resmi dibuka pada 12 Maret 1988 oleh Lee Kuan Yew, sebagai Perdana Menteri Singapura waktu itu. Sebanyak 21 stasiun ditambahkan dalam jaringan dimana pembukaan Stasiun Boon Lay pada Jalur Timur-Barat 6 Juli 1990 menandai selesainya jaringan dua tahun lebih awal dari jadwal. MRT Singapura kemudian bertahap berkembang. Termasuk S$1.2 milyar pengembangan Jalur Utara-Selatan melalui Woodlands yang melengkapi keseluruhan sistem dan diresmikan pada 10 Februari 1996. Konsep untuk mendekatkan jalur rel ke perumahan menghadirkan sistem LRT Singapura. Jalur LRT terhubung ke jalur SMRT. Pada 6 November 1999 jalur LRT pertama di Bukit Panjang mulai beroperasi. Pada 2002 stasiun Bandar Udara Changi dan Stasiun Expo ditambahkan pada jalur SMRT. Jalur Utara-Timur, yang dioperasikan oleh SBS Transit dan dibuka pada 20 Juni 2003 sebagai jalur rel otomatis penuh pertama di dunia. Kemudian, pada15 Januari 2006 setelah melakukan diskusi dengan masyarakat, Stasiun Buangkok dibuka. Jalur pengembangan Boon Lay, meliputi Stasiun Pioneer dan Stasiun Joo Koon mulai membuka layanan pada 28 Februari 2009. Selanjutnya pada 28 Mei 2009 bagian pertama dari Jalur Lingkaran (Circle Line) dari Stasiun Marymount ke Stasiun Bartley dibuka. Selanjutnya 9 stasiun dari Stasiun Tai Seng ke Stasiun Dhoby Ghaut dibuka pada 17 April 2010.

Sistem operasional SMRT dapat dikatakan sebagai sistem transportasi massal terbaik di dunia dilihat dari kebersihan dan pelayanannya. Aksesibilitas sistem transportasi SMRT sangat mudah dicapai oleh masyarakat. SMRT bekerja dan didukung oleh moda transportasi lain, seperti bus dan taxi. Dapat dikatakan bahwa semua jaringan stasiun SMRT sudah terintegrasi dengan jaringan transportasi yang lain. Dari segi ini, pemerintah Singapura sudah memasukkan salah satu konsep transportasi yaitu kemudahan atau aksesibilitas. Sebagian rute, terutama di tengah kota, dibuat di bawah tanah (underground), dan sisanya adalah elevated. Di jam sibuk terutama di stasiun interchange, kereta bisa sangat ramai dan penuh oleh masyarakat yang akan berganti menuju ke stasiun yang berbeda. Jam sibuk dari jaringan SMRT terjadi pada pukul 08.00-09.00 pagi waktu setempat dan pukul 17.00-19.00 malam waktu setempat. Tarif perjalanan dengan SMRT dihitung berdasarkan jarak atau jumlah stasiun yang dilewati. Untuk jarak satu stasiun dikenakan SGD 0.60 hingga SGD 0.80. Untuk jarak yang terjauh dikenakan biaya hingga SGD 2. Penumpang boleh bebas tukar line asalkan belum keluar dari ticket gate. Untuk memudahkan informasi rute dan jaringan transportasi SMRT, pemerintah Singapura telah menyiapkan peta rute SMRT. Peta ini dipasang di tempat-tempat umum, papan informasi, dan pintu masuk di setiap stasiun. Setiap jalur SMRT diberi warna berbeda di dalam peta sehingga mudah dibedakan. Warna kuning atau circle line adalah jalur terbaru dan belum beroperasi penuh (garis putus-putus berarti jalur tersebut belum beroperasi).





Banyak masyarakat Singapura, terutama wisatawan asing, yang memanfaatkan sistem transportasi SMRT ini. Ketepatan waktu merupakan salah satu kelebihan dari jaringan transportasi SMRT. SMRT memiliki jadwal yang sudah diatur sehingga setiap waktu tertentu, penumpang dapat memasuki SMRT untuk berganti stasiun. Ketepatan waktu ini dapat diaplikasikan karena jalur atau rute SMRT sudah terintegrasi satu sama lain dan juga sudah terhubung dengan stasiun yang lain. Manajemen pengelolaannya sangat professional dapat dilihat dari kemudahan wisatawan asing untuk mendapatkan rute perjalanan SMRT. Di Singapura, SMRT melayani jarak 120 km dengan 85 stasiun, Light Rail Transit (LRT) melayani 29 km dan 43 stasiun yang setiap harinya melayani 1,9 juta penduduk. Sistem ini didukung oleh 4.000 armada bus dengan 370 rute melayani 3,1 juta penduduk serta 24.000 unit taksi yang melayani 900 ribu penduduk. Jika dilihat dari data di atas, SMRT dibangun bukan hanya memperhatikan jaringan transportasi SMRT tersebut, melainkan juga memperhatikan pembangunan jaringan transportasi lain yang mendukung SMRT. Secara singkat, jika penumpang ingin melakukan pergerakan dengan SMRT, penumpang dapat menuju ke stasiun SMRT dengan bus maupun taxi. Begitu sampai di stasiun, penumpang dapat menaiki SMRT dan berpindah stasiun. Untuk menuju tempat yang diinginkan, penumpang dapat menaiki bus atau taxi kembali begitu keluar dari stasiun SMRT. Sistem transportasi yang baik ini sangat didukung dengan pengembangan tata guna lahan. Pemerintah Singapura memisahkan pusat ekonomi dengen pemukiman penduduk. Tentunya, pemerintah Singapura serius melakukan hal tersebut dan juga bekerja sama dengan investor yang tertarik dengan pengembangan SMRT.





Secara umum, SMRT dan fasilitas transportasi lain telah mampu untuk memenuhi kebutuhan transportasi masyarakat Singapura. Namun, ini tidak membuat pemerintah Singapura membatalkan rencana pengembangan SMRT. Selain menambah dan memperbaharui armada SMRT, rencana pengembangan SMRT akan lebih difokuskan untuk penambahan julah rute dan evaluasi rute-rute yang telah berjalan. Evaluasi rute yang telah berjalan bertujuan untuk melihat seberapa jauh efektif rute tersebut untuk melayani permintaan transportasi. Selain itu, dilihat juga sisi ekonomi jika rute tersebut tetap beroperasi. Rencana pengembangan lainnya adalah penambahan fasilitas pada stasiun SMRT. Integrasi antar stasiun juga akan lebih ditingkatkan untuk memastikan waktu kedatangan dan keberangkatan dari kereta SMRT. Integrasi antar moda transportasi juga akan diperhatikan agar semua fasilitas transportasi dapat menunjang satu sama lain.



Friday, February 4, 2011

Suramadu National Bridge : Construction, Infrastructure, And Culture



Sebuah karya konstruksi hasil kerja keras putra-putri bangsa telah berhasil diwujudkan. Jembatan Nasional Suramadu yang menghubungkan antara Surabaya dan Madura kini menjadi salah satu ikon yang patut untuk dibanggakan. Jembatan Nasional Suramadu adalah jembatan yang melintasi Selat Madura, menghubungkan Pulau Jawa (di Surabaya) dan Pulau Madura (di Bangkalan, tepatnya timur Kamal), Indonesia. Dengan panjang 5.438 m, jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di Indonesia saat ini. Jembatan Suramadu terdiri dari tiga bagian yaitu jalan layang (causeway), jembatan penghubung (approach bridge), dan jembatan utama (main bridge).
Jembatan ini diresmikan awal pembangunannya oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 20 Agustus 2003 dan diresmikan pembukaannya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 10 Juni 2009. Pembangunan jembatan ini ditujukan untuk mempercepat pembangunan di Pulau Madura, meliputi bidang infrastruktur dan ekonomi di Madura, yang relatif tertinggal dibandingkan kawasan lain di Jawa Timur. Perkiraan biaya pembangunan jembatan ini adalah 4,5 triliun rupiah. Manfaat dari pembangunan jembatan ini, yaitu mendorong peningkatan perekonomian di Pulau Madura dan Propinsi Jawa Timur secara keseluruhan, mengintegrasikan Pulau Madura menjadi suatu sistem pengembangan wilayah Gerbangkertosusila dan pembangunan Jawa Timur secara keseluruhan, memacu percepatan dan pemerataan pembangunan antar daerah dalam konteks pengembangan wilayah Gerbangkertosusila, melalui pembangunan infrastruktur, mendorong peningkatan lapangan kerja yang sesuai dengan budaya masyarakat Madura, dan mengaplikasikan teknologi jembatan gantung type cable stayed, sekaligus menjadi training ground (ajang pelatihan) untuk mencetak sumber daya manusia Indonesia yang ahli di bidang konstruksi jembatan. Tipe jembatan cable-stayed juga memiliki nilai estetika yang tinggi sehingga tipe struktur ini akan dapat berfungsi sebagai land mark untuk kota Suramabaya dan Pulau Madura. Dari segi struktur, jembatan cable stayed merupakan tipe struktur yang tergolong canggih.
Pembuatan jembatan ini dilakukan dari tiga sisi, baik sisi Bangkalan maupun sisi Surabaya. Sementara itu, secara bersamaan juga dilakukan pembangunan bentang tengah yang terdiri dari main bridge dan approach bridge. Jembatan Suramadu pada dasarnya merupakan gabungan dari tiga jenis jembatan dengan panjang keseluruhan sepanjang 5.438 meter dengan lebar kurang lebih 30 meter. Jembatan ini menyediakan empat lajur dua arah selebar 3,5 meter dengan dua lajur darurat selebar 2,75 meter. Jembatan ini juga menyediakan lajur khusus bagi pengendara sepeda motor disetiap sisi luar jembatan.






Jalan layang atau Causeway dibangun untuk menghubungkan konstruksi jembatan dengan jalan darat melalui perairan dangkal di kedua sisi. Jalan layang ini terdiri dari 36 bentang sepanjang 1.458 meter pada sisi Surabaya dan 45 bentang sepanjang 1.818 meter pada sisi Madura. Jalan layang ini menggunakan konstruksi penyangga PCI dengan panjang 40 meter tiap bentang yang disangga pondasi pipa baja berdiameter 60 cm.
Jembatan penghubung atau approach bridge menghubungkan jembatan utama dengan jalan layang. Jembatan terdiri dari dua bagian dengan panjang masing-masing 672 meter. Jembatan ini menggunakan konstruksi penyangga beton kotak sepanjang 80 meter tiap bentang dengan 7 bentang tiap sisi yang ditopang pondasi penopang berdiameter 180 cm.
Jembatan utama atau main bridge terdiri dari tiga bagian yaitu dua bentang samping sepanjang 192 meter dan satu bentang utama sepanjang 434 meter. Jembatan utama menggunakan konstruksi cable stayed yang ditopang oleh menara kembar setinggi 140 meter. Lantai jembatan menggunakan konstruksi komposit setebal 2,4 meter. Untuk mengakomodasi pelayaran kapal laut yang melintasi Selat Madura, jembatan ini memberikan ruang bebas setinggi 35 meter dari permukaan laut. Pada bagian inilah yang menyebabkan pembangunannya menjadi sulit dan terhambat, dan juga menyebabkan biaya pembangunannya membengkak.





Langkah pertama pelaksanaan pembangunan Jembatan Nasional Suramadu ini selain berkaitan dengan hal teknis juga dilakukan kegiatan lain yang juga sangat penting, yaitu pembersihan ranjau yang diperkirakan berada di Selat Madura. Kegiatan ini dibantu oleh TNI Angkatan Laut. Tujuan dai kegiatan ini, yaitu membebaskan area seluas 550.000 m2 di perairan Selat Madura khususnya Alur Pelayaran Timur Surabaya (ATPS) dari Ranjau dan bahan Peledak sisa Perang Dunia II, yang dalam hal ini berada pada bagian Trase Proyek Jembatan Suramadu. Selain itu, dilakukan pula uji model Jembatan Nasional Suramadu yang akan dibangun. Pada bulan Desember 2003 dilakukan Wind Tunnel Test di laboratorium LAGG Serpong untuk Section Model, dengan tujuan, yaitu identifikasi parameter ketakstabilan aeroelastik, identifikasi tingkat kenyamanan, dan identifikasi beban angin steady. Pengujian dilaksanakan dengan section dan full model.



Pekerjaan Beton pada proyek jembatan Suramadu menggunakan bahan semen type khusus yaitu Special Blanded Cement (SBC) yang diproduksi secara khusus oleh PT. Semen Gresik yang merupakan riset bersama antara PT. Semen Gresik dengan Proyek Jembatan Suramadu.
Kelebihan Dari Semen Jenis ini adalah :
a. Tahan terhadap serangan sulfat dan Chlor maupun lingkungan yang agresif pada daerah laut.
b. Panas Hidrasi yang terjadi lebih kecil bila dibandingkan dengan semen type lain.
c. Permiabilitas lebih kecil dari semen type lain.
Sehingga dari kelebihan diatas penggunaan Semen type SBC ini akan mampu melindungi beton dari serangan korosi.
Sudah selayaknya kita sebagai masyarakat umum dan pengguna Jembatan Nasional Suramadu untuk menjaga segala fasilitas umum yang telah dibangun oleh pemerintah. Pembangunan Jembatan Nasional Suramadu ini selain dibiayai oleh pemerintah dan masyarakat, juga merupakan kebanggaan tidak hanya bagi masyarakat Jawa Timur, tetapi juga seluruh masyarakat Indonesia.

Sumber : Wikipedia



Nama resmi : Jembatan Nasional Suramadu
Mengangkut : 8 lajur
Melintasi : Selat Madura
Lokasi : Jawa Timur
Pengelola : PT Jasa Marga (sementara)
Desain : Cable stayed
Panjang total : 5,438 m (17.841 kaki)
Lebar : 30 m (98 kaki)
Tinggi : 146 m (479 kaki)
Bentang utama : 434 m (1.424 kaki)
Vertical clearance : 35 m (115 kaki)
Tanggal dibangun : 20 Agustus 2003
Tanggal Pembukaan : 10 Juni 2009
Jumlah Bentangan : 2 (jembatan utama) dan 6 (keseluruhan)

Thursday, February 3, 2011

All About Civil Engineering



Belajar apa sih Teknik Sipil itu? Itulah sebagian besar pertanyaan temen-temen yang baru lulus SMA dan akan melanjutkan kuliah. Pertanyaan yang wajar diajukan bagi mereka yang belum mengetahui seluk beluk mengenai ilmu yang satu ini. Banyak masyarakat yang belum mengetahui bahkan memahami tentang Teknik Sipil. Ada anggapan yang berkembang di masyarakat bahwa lulusan Teknik Sipil akan bekerja sebagai pegawai negeri sipil dan bekerja di kantor catatan sipil. Anggapan ini berkembang karena masyarakat melihat kata “sipil” yang mungkin saja pemahamannya dapat berbeda dengan makna sebenarnya dari ilmu tersebut.



Teknik Sipil merupakan salah satu cabang ilmu teknik yang mempelajari tentang rekayasa bangunan-bangunan sipil dan juga mempelajari tentang akibat pembangunan bangunan sipil tersebut terhadap masyarakat sekitar dan juga khususnya terhadap lingkungan. Bangunan-bangunan sipil merupakan bangunan-bangunan yang tujuan pembangunannya ditujukan untuk kepentingan masyarakat luas. Misalnya saja rumah sakit, gedung sekolah, jalan raya, jembatan, bendung, bendungan, dan lain sebagainya. Banyaknya jenis bangunan sipil yang ada menjadikan ilmu teknik sipil ini berkembang sangat luas dan tidak hanya berdasarkan satu teori tertentu saja. Saat awal mempelajari teknik sipil, kita akan belajar mengenai dasar-dasar fisika dan kimia yang bertujuan untuk mengingat kembali konsep-konsep sederhana fisika dan kimia yang telah dipelajari sebelumnya. Ini penting karena sebagian besar konsep ini dipergunakan untuk teori-teori lain dalam teknik sipil. Selain itu, kita juga akan mempelajari mengenai keseimbangan gaya-gaya. Salah satu konsep dalam ilmu teknik sipil adalah adanya aksi dan reaksi. Ini akan dipelajari dalam keseimbangan gaya-gaya dimana dasar konsepnya adalah reaksi gaya yang diterima besarnya harus sama dengan aksi yang diberikan terhadap reaksi tersebut sehingga terjadi keseimbangan antara aksi dan reaksi dalam sebuah keadaan. Bangunan-bangunan teknik sipil selain memerlukan perhitungan dalam desain dan konsep bangunannya, juga harus diperhatikan perhitungan mengenai material yang dipergunakan untuk membangun bangunan tersebut. Material ini memiliki satu ilmu tersendiri yang akan mempelajari jenis-jenis bahan, sifat-sifat bahan, dan pemanfaatan material tersebut dalam bangunan-bangunan sipil.



Cabang-cabang ilmu teknik sipil sangat beranekaragam. Terdapat cabang ilmu struktur, transportasi, hidro, geoteknik, dan manajemen konstruksi. Cabang ilmu struktur mempelajari tentang bagaimana cara membangun yang aman dan sesuai dengan kaidah-kaidah teknik sipil. Cabang transportasi mempelajari tentang rekayasa transportasi perkotaan, bagian-bagian jalan, dan proses pembuatan jalan. Cabang ilmu hidro mempelajari tentang perilaku air, jaringan irigasi, dan bangunan-bangunan air, misalnya bendung dan bendungan. Cabang ilmu goeteknik mempelajari tentang sifat-sifat tanah, jenis-jenis pondasi, dan rekayasa pondasi. Cabang ilmu manajemen konstruksi mempelajari tentang pelaksanaan proyek, anggaran biaya proyek, dan pengelolaan waktu pelaksanaan proyek.



Prospek kerja teknik sipil sangat luas. Pembangunan infrastruktur yang sedang gencar dilakukan merupakan peluang kerja yang dapat dimanfaatkan oleh lulusan teknik sipil. Selain berkarya di bidang konstruksi, lulusan teknik sipil juga dapat berkarya sebagai penilai bangunan yang dapat bekerja di bank. Lulusan teknik sipil dituntut memiliki perencanaan yang matang dan juga pelaksanaan rencana yang baik. Artinya, setiap perencanaan yang telah disusun sebelumnya dapat dilaksanakan dengan baik.






Buat temen-temen yang ingin melanjutkan, teknik sipil merupakan salah satu jurusan yang dapat dipertimbangkan. Selain memiliki prospek kerja yang bagus, teknik sipil juga dapat mengajarkan kita untuk lebih mandiri dan lebih menghargai waktu. Jadwal kuliah yang padat dan diselingi dengan tugas mandiri yang lumayan berat, mau tidak mau akan membuat kita pandai mengatur waktu dan tidak bergantung kepada orang lain, terlebih lagi kepada orang tua. Banyak pengalaman dan ilmu baru yang akan kita dapatkan. Kita dapat merancang bangunan, merancang capuran beton, dan lain sebagainya yang terkait dengan bangunan sipil. Berkunjung ke tempat lain untuk melihat bangunan sipil yang ada juga merupakan pengalaman yang menarik. Ilmu yang dipelajari dalam teknik sipil merupakan ilmu terapan yang dapat dipratekkan secara langsung. Kendala terbesar yang mungkin dihadapi oleh lulusan teknik sipil yaitu perbedaan antara teori yang didapat di bangku kuliah dengan permasalahan yang dihadapi di lapangan. Permasalahan di lapangan memiliki berbagai macam faktor yang harus diperhatikan agar permasalahan tersebut dapat diselesaikan.

Friday, January 21, 2011

Wakatobi : Paradise In Indonesia


Taman Nasional Wakatobi memiliki potensi sumber daya alam laut yang bernilai tinggi baik jenis dan keunikannya, dengan panorama bawah laut yang menakjubkan. Untuk wilayah Indonesia, Wakatobi merupakan nama kabupaten yang terdiri dari empat pulau utama, yaitu Wangiwangi, Kalidupa, Tomia, dan Binongko. Wakatobi adalah singkatan dari keempat pulau utama tersebut. Sebelum 18 Desember 2003, kepulauan ini disebut Kepulauan Tukang Besi dan masih merupakan bagian dari Kabupaten Buton. Secara umum perairan lautnya mempunyai konfigurasi dari mulai datar sampai melandai kearah laut, dan beberapa daerah perairan terdapat yang bertubir curam. Kedalaman airnya bervariasi, bagian terdalam mencapai 1.044 meter dengan dasar perairan sebagian besar berpasir dan berkarang.
Sektor pariwisata Wakatobi memang sedang menggeliat. Pemda setempat terus membenahi infrastruktur untuk menunjang pengembangan pariwisata. Hingga kini, arus kunjungan wisata telah mencapai 3.000-5.000 orang per tahun. Namun, kunjungan wisata masih didominasi turis asing asal Eropa dan Amerika. Taman Nasional Kepulauan Wakatobi (TNKW) memang merupakan taman laut terbesar kedua setelah Taman Nasional laut Teluk Cendrawasih di Papua. Di kepulauan ini, banyak orang mengagumi pesona Karang Kaledupa yang merupakan karang terluas dan terpanjang di Indonesia. TNKW memang terletak di kawasan Segitiga Terumbu Karang Dunia. Kepulauan Wakatobi memiliki 25 gugusan terumbu karang. Terumbu karang tersebar di antara 37 pulau yang ada. Di kepulauan ini, baru enam pulau saja yang dihuni. Sementara hanya 11 pulau yang memiliki nama. Sisanya, 31 pulau masih tak bernama dan belum dikelola. Para wisatawan yang datang, umumnya melakukan kegiatan selam, snorkeling, berenang, berkemah dan wisata budaya. Keindahan alam Wakatobi memang berasal dari kekayaan sumber daya alamnya. Kajian ekologi yang dilakukan The Nature Conservancy (TNC) dan World Wide Fund for Nature (WWF) pada tahun 2003 menemukan 396 jenis karang batu penyusun terumbu karang. Di kawasan itu, sebanyak 590 jenis ikan ditemukan berkembang biak.













Taman nasional ini memiliki 25 buah gugusan terumbu karang dengan keliling pantai dari pulau-pulau karang sepanjang 600 km. Lebih dari 112 jenis karang dari 13 famili diantaranya Acropora formosa, A. hyacinthus, Psammocora profundasafla, Pavona cactus, Leptoseris yabei, Fungia molucensis, Lobophyllia robusta, Merulina ampliata, Platygyra versifora, Euphyllia glabrescens, Tubastraea frondes, Stylophora pistillata, Sarcophyton throchelliophorum, dan Sinularia spp.
Kekayaan jenis ikan yang dimiliki taman nasional ini sebanyak 93 jenis ikan konsumsi perdagangan dan ikan hias diantaranya argus bintik (Cephalopholus argus), takhasang (Naso unicornis), pogo-pogo (Balistoides viridescens), napoleon (Cheilinus undulatus), ikan merah (Lutjanus biguttatus), baronang (Siganus guttatus), Amphiprion melanopus, Chaetodon specullum, Chelmon rostratus, Heniochus acuminatus, Lutjanus monostigma, Caesio caerularea, dan lain-lain.












Selain terdapat beberapa jenis burung laut seperti angsa-batu coklat (Sula leucogaster plotus), cerek melayu (Charadrius peronii), raja udang erasia (Alcedo atthis); juga terdapat tiga jenis penyu yang sering mendarat di pulau-pulau yang ada di taman nasional yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu tempayan (Caretta caretta), dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea).
Masyarakat asli yang tinggal di sekitar taman nasional yaitu suku laut atau yang disebut suku Bajau. Menurut catatan Cina kuno dan para penjelajah Eropa, menyebutkan bahwa manusia berperahu adalah manusia yang mampu menjelajahi Kepulauan Merqui, Johor, Singapura, Sulawesi, dan Kepulauan Sulu. Dari keseluruhan manusia berperahu di Asia Tenggara yang masih mempunyai kebudayaan berperahu tradisional adalah suku Bajau. Melihat kehidupan mereka sehari-hari merupakan hal yang menarik dan unik, terutama penyelaman ke dasar laut tanpa peralatan untuk menombak ikan.
Pulau Hoga (Resort Kaledupa), Pulau Binongko (Resort Binongko) dan Resort Tamia merupakan lokasi yang menarik dikunjungi terutama untuk kegiatan menyelam, snorkeling, wisata bahari, berenang, berkemah, dan wisata budaya.
Pesona wisata yang terdapat di Wakatobi bukan saja hanya wisata menyelam, tetapi juga keindahan daratannya. Kesadaran akan kebersihan sangat disadari oleh masyarakat setempat. Sampah plastik umumnya dikumpulkan di suatu tempat dan dijual kepada penadah. Selain membuat pemasukan bagi penduduk, kesadaran ini relatif menjaga kebersihan di sana.













Pesona darat Pulau Wangi-Wangi adalah pada mata air yang terdapat pada celah-celah bukit kapur. Adapun Pulau Kalidupa dan Tomia kaya pemandangan pantai serta tarian tradisional. Pulau terujung, yaitu Binongko, yang dulu dikenal sebagai Pulau Tukang Besi, memang dipenuhi para pandai besi. Mereka mengerjakan pembuatan aneka alat rumah tangga yang dijual sampai Makassar. Saat mereka menempa besi panas adalah atraksi yang menarik. Sayangnya, sebagian pandai besi sudah memakai pipa paralon menggantikan bambu sebagai alat peniup api.

Sumber : Taman Nasional Wakatobi
Sumber : Liburan.Info