Saturday, November 30, 2013

Typical Deficiency Audit Manajemen


Typical Deficiency Audit Manajemen

1.    Pembahasan artikel typical deficiency
Defisiensi atau kekurangan dalam hal ini adalah kekurangan yang dimiliki oleh manajemen. Audit manajemen dilakukan untuk melakukan peningkatan kinerja manajemen atau dengan kata lain menemukan adanya defisiensi atau kekurangan yang dimiliki oleh manajemen (Herbert, 1979). Defisiensi merupakan salah satu aspek dari audit manajemen. Hasil penting dari audit keseluruhan adalah untuk mengidentifikasi dan memperbaiki penyebab yang menimbulkan adanya defisiensi. Sehingga tujuan dari auditor adalah untuk meningkatkan sistem manajemen seperti sistem penyimpanan uang, menghindari pembayaran yang tidak benar, mencegah kerugian, dan melakukan efisiensi operasi. Auditor harus mengidentifikasi praktek yang terjadi untuk dapat menentukan individu atau unit organisasi mana yang menimbulkan adanya defisiensi (Herbert, 1979). Indikasi dari adanya defisiensi adalah didasarkan pada pengukuran standar dari kinerja yang menunjukkan adanya kelemahan pada individu atau unit organisasi. Cooper dan Backer (1993) berpendapat bahwa mungkin saja defisiensi ini disebabkan oleh belum siapnya organisasi untuk menghadapi perubahan yang terjadi dalam lingkungan bisnis. Permasalahan yang paling sering dikaitkan dengan belum siapnya organisasi menghadapi perubahan adalah permasalahan sumber daya manusia yang terdapat di organisasi.
Menurut Tugiman (1997), defisiensi yang ada di organisasi terkait dengan harta atau aktiva. Audit manajemen harus meninjau berbagai alat atau cara yang digunakan untuk melindungi harta dan, bila dipandang perlu, memverifikasi keberadaan dari suatu harta atau aktiva. Audit manajemen harus melihat cara yang dipergunakan untuk melindungi harta atau aktiva organisasi dari berbagai jenis kerugian, seperti kerugian yang diakibatkan oleh pecnurian, kegiatan yang illegal, atau tidak pantas. Menurut Tugiman (1997), pada saat memverifikasi keberadaan suatu harta, pemeriksa harus mempergunakan prosedur pemeriksaan yang sesuai dan tepat.
Menurut Herbert (1979), harus diingat bahwa meskipun tujuan utama dari audit manajemen adalah untuk mengidentifikasi dan mengembangkan defisiensi, auditor juga harus memberikan pengakuan terhadap hasil kerja yang memiliki efek yang baik jika memungkinkan.

Jenis-jenis defisiensi
Jenis-jenis defisiensi yang terdapat pada organisasi dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu defisiensi atau kekurangan dalam sistem dan defisiensi atau kekurangan dalam operasi.
1.      Defisiensi atau kekurangan dalam sistem. Contoh-contoh dari defisiensi ini, yaitu
·         Desain atau sistem yang tidak memadai atas pengendalian internal.
·         Dokumentasi yang tidak memadai dari komponen pengendalian internal.
·      Sumber daya manusia yang dimiliki organisasi tidak memiliki kualifikasi dan pelatihan untuk fungsi yang ditugaskan.
·       Tidak adanya kontrol pemantauan dan pengawasan yang digunakan untuk menilai desain dan efektivitas sistem organisasi dari waktu ke waktu.
·      Tidak adanya proses internal untuk melaporkan kekurangan dalam sistem kepada manajemen secara tepat waktu.
2.      Defisiensi atau kekurangan dalam operasi. Contoh-contoh dari defisiensi ini, yaitu
·         Kegagalan atas informasi dan komunikasi dalam sistem untuk memberikan output yang lengkap dan akurat atas operasi organisasi.
·         Kegagalan kontrol dalam melindungi aset atau aktiva organisasi dari kehilangan, kerusakan, atau penyalahgunaan. Kondisi ini mungkin perlu pertimbangan yang matang sebelum dievaluasi sebagai kekurangan signifikan atau kelemahan yang material (Tugiman, 1997).
·         Fungsi kepatuhan terhadap peraturan tidak berjalan efektif.
·         Kegagalan oleh manajemen atau pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola organisasi untuk menilai efek dari defisiensi signifikan sebelumnya yang dikomunikasikan kepada mereka.

Temuan audit    
Temuan audit merupakan hal-hal yang berkaitan dengan pernyataan tentang fakta baik yang bersifat positif maupun negatif.
Temuan audit yang bersifat negatif (eksepsi/defisiensi) merepresentasikan area yang memiliki tingkat risiko yang tinggi, sehingga auditor menyertakan rekomendasi untuk memperbaiki pengendalian/sistem/operasional organisasi. Dalam pelaporan hasil audit, baik temuan yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif harus disajikan secara berimbang/proporsional.
Menurut Sawyer et al. (2005), audit manajemen diperlukan untuk mengidentifikasi kondisi-kondisi yang membutuhkan tindakan perbaikan. Penyimpangan-penyimpangan dari norma-norma atau kriteria-kriteria yang dapat diterima disebut temuan audit (audit findings). Temuan audit bisa memiliki bermacam-macam bentuk dan ukuran. Misalnya, temuan-temuan tersebut dapat menggambarkan:
·         Tindakan-tindakan yang seharusnya diambil, tetapi tidak dilakukan, seperti pengiriman yang dilakukan tetapi tidak ditagih.
·         Tindakan-tindakan yang dilarang, seperti pegawai yang mengalihkan sewa dari perlengkapan perusahaan ke perusahaan kontrak pribadi untuk kepentingannya sendiri.
·         Tindakan-tindakan tercela, seperti membayar barang dan perlengkapan pada tarif yang telah diganti dengan tarif yang lebih rendah pada kontrak yang lebih menguntungkan.
·         Sistem yang tidak memuaskan, seperti diterimanya tindak lanjut yang seragam untuk klaim asuransi yang belum diterima padahal klaim tersebut bervariasi dalam jumlah dan signifikansinya.
·         Eksposur-eksposur risiko yang harus dipertimbangkan.
Meskipun temuan-temuan audit sering kali disebut sebagai “kekurangan” (deficiency), banyak organisasi merasa bahwa istilah tersebut terlalu negatif. Dalam kenyataannya, bahkan istilah “temuan” dianggap terlalu negatif di beberapa tempat. Kata-kata seperti “kondisi” dianggap lebih nyaman dan tidak memberi ancaman, serta tidak menimbulkan tanggapan defensif di pihak klien (Sawyer et al., 2005).

Temuan audit negatif/eksepsi/defisiensi
Karakterisitik temuan audit negatif/eksepsi/defisiensi yang layak untuk dilaporkan, yaitu sebagai berikut:
1)        Signifikan dan didukung oleh bukti audit (fakta dan bukan opini),
2)        Objektif dan relevan dengan masalah yang dihadapi,
3)        Mendukung kesimpulan yang logis, beralasan, dan dapat mendorong manajemen untuk melakukan tindak lanjut berdasarkan hasil audit,
4)        Mungkin tidak signifikan, tetapi menunjukkan gejala masalah yang potensial terjadi di masa depan. Pelaporan secara lisan, diskusi dengan manajemen auditee dan memastikan tindak lanjut manajemen sebagai langkah preventif atau detektif, merupakan bentuk penanganan yang dapat diterima atas temuan audit yang dimaksud.
Menurut Gondodiyoto (2004), temuan negatif adalah temuan berdasarkan bahan bukti audit bahwa ternyata terdapat ketidaktaatan terhadap ketentuan atau peraturan, pengeluaran uang yang tidak sepatutnya, ketidakhematan, ketidakefisienan, dan ketidakefektifan yang dapat berakibat (adanya kemungkinan/resiko/dampak) yang merugikan perusahaan, misalnya hilang atau rusaknya aset (termasuk data/informasi yang dimiliki perusahaan), tidak dipatuhinya prosedur kerja atau ketentuan atau kebijakan perusahaan, atau terjadinya kekeliruan (error/kesalahan-kelalaian, tidak disengaja) maupun penyalahgunaan (fraud/kecurangan).
Temuan audit dihasilkan dari proses perbandingan antara kriteria (praktek yang diharapkan) dengan kondisi (fakta atau keadaan sebenarnya), berikut penyebab terjadinya perbedaan, dan akibat yang mungkin ditimbulkannya. Langkah terakhir yang dapat diambil oleh auditor berkenaan dengan hal tersebut adalah menyusun rekomendasi yang akan diberikan kepada manajemen berdasarkan temuan audit tersebut.

Unsur temuan audit
Unsur temuan audit terdiri dari beberapa hal, yaitu
1.      Kondisi
Kondisi adalah keadaan atau kejadian sebenarnya yang ditemukan auditor selama proses audit dilaksanakan dan diselesaikan. Keadaan atau kejadian yang dimaksud di atas dapat berupa pelaksanaan prosedur kerja secara aktual, situasi operasional, kondisi aset, jumlah yang sebenarnya tercatat, dan lain-lain. Kondisi merupakan inti dari temuan audit, oleh karena itu harus didasarkan kepada bukti audit yang kompeten, relevan, lengkap, dan bermanfaat. Auditee mungkin dapat tidak setuju dengan kesimpulan dan interpretasi auditor, tetapi auditee tidak dapat menyangkal fakta yang mendasari suatu kondisi.
Menurut Sawyer et al. (2005), istilah “kondisi” (condition) mengacu pada fakta-fakta yang dikumpulkan melalui observasi, pengajuan pertanyaan, analisis, verifikasi, dan investigasi yang dilakukan saat audit manajemen. Kondisi merupakan jantungnya temuan, dan informasi tersebut haruslah memadai, kompeten, dan relevan. Kondisi harus mampu mencerminkan total populasi atau sistem yang ditelaah; atau, dalam kasus terpisah, harus merupakan kelemahan yang signifikan. Klien harus menyepakati fakta-fakta yang disajikan, meskipun mereka bisa saja memperselisihkan signifikansi yang dilekatkan auditor pada temuan-temuan tersebut.
2.      Kriteria (praktek yang diharapkan)
Kriteria menggambarkan kebijakan, prosedur, standar, hukum, atau regulasi yang ditetapkan dan harus dipatuhi oleh auditee. Kriteria yang digunakan harus menggambarkan (a) tujuan yang ingin dicapai manajemen, dan (b) kualitas pencapaiannya. Praktek yang diharapkan mengacu kepada prosedur kerja yang lengkap dan dirancang untuk mencapai tujuan, serta bersifat mengikat untuk dipatuhi.
3.      Penyebab
Penyebab dari suatu kondisi mengindikasikan mengapa masalah tersebut terjadi (atau alasan yang rasional atas terjadinya perbedaan antara kondisi dengan kriteria). Bila penyimpangan dapat diidentifikasi, dan penyebabnya diketahui, maka solusi alternatif untuk mengatasi masalah yang dihadapi dapat disusun, sehingga tindakan korektif oleh manajemen terfokus kepada upaya mengatasi masalah tersebut.
Menurut Sawyer et al. (2005), penyebab (cause) menjelaskan mengapa terjadi deviasi dari kriteria yang ada, mengapa sasaran tidak tercapai, dan mengapa tujuan tidak terpenuhi. Identifikasi penyebab merupakan hal penting untuk memperbaikinya. Setiap temuan audit bisa ditelusuri penyimpangannya dari apa yang diharapkan. Masalah bisa diatasi hanya jika penyimpangan ini diidentifikasi dan penyebabnya diketahui.
4.      Akibat
Akibat merupakan dampak aktual atau potensial yang berkenaan dengan kondisi yang ditemukan (terutama kondisi yang tidak sesuai dengan kriteria). Unsur temuan audit ini diperlukan untuk meyakinkan manajemen bahwa bila kondisi yang tidak diinginkan dibiarkan akan mengakibatkan kerugian yang signifikan, sehingga manajemen terdorong atau memiliki dasar untuk melakukan tindakan korektif.
Menurut Sawyer et al. (2005), akibat (effect) ditujukan untuk menjawab pertanyaan “lalu kenapa.” Anggaplah semua fakta telah disajikan, lalu kenapa? Siapa atau apa yang dirugikan, dan seberapa buruk? Apa konsekuensi-konsekuensinya? Akibat-akibat yang merugikan haruslah signifikan – bukan hanya penyimpangan dari prosedur. Akibat merupakan elemen yang dibutuhkan untuk meyakinkan klien dan manajemen pada tingkat yang lebih tinggi bahwa kondisi yang tidak diinginkan, jika dibiarkan terus terjadi, akan berakibat buruk dan memakan biaya yang lebih besar daripada tindakan yang dibutuhkan untuk memperbaiki masalah tersebut. Untuk temuan-temuan keekonomisan dan efisiensi, akibat biasanya diukur dalam dolar atau rupiah. Dalam temuan-temuan efektivitas, akibat biasanya merupakan ketidakmampuan untuk menyelesaikan hasil akhir yang diinginkan atau diwajibkan. Akibat adalah hal yang membuat yakin dan sangat diperlukan untuk suatu temuan audit. Jika tidak disajikan ke manajemen dengan memadai maka kecil kemungkinan diambil tindakan perbaikan.
5.      Rekomendasi
Rekomendasi audit merupakan solusi atau saran alternatif untuk menyelesaikan atau mengatasi masalah tertentu yang dideskripsikan dalam setiap unsur temuan audit. Rekomendasi harus bersifat :
·         dapat dilaksanakan,
·         operasional,
·         spesifik, dan
·         mengidentifikasi subjek yang bertanggungjawab untuk melakukan tidak lanjut.
Menurut Sawyer et al. (2005), rekomendasi (recommendation) menggambarkan tindakan yang mungkin dipertimbangkan manajemen untuk memperbaiki kondisi-kondisi yang salah, dan untuk memperkuat kelemahan dalam sistem kontrol. Rekomendasi haruslah positif dan bersifat spesifik. Rekomendasi juga harus mengidentifikasi siapa yang akan bertindak.
Manajemen dan auditee berkewajiban untuk memperhatikan atau memberikan tanggapan atas temuan audit, tetapi tidak harus menerima setiap rekomendasi auditor.
Faktor yang perlu dipertimbangkan oleh auditor :
1)   Berdasarkan pertimbangan profesional, rekomendasi tersebut dapat mengatasi masalah.
2)   Manajemen atau auditee mampu mengimplementasikan rekomendasi yang diberikan oleh auditor.
            3)    Rekomendasi harus sesuai dengan sifat operasi auditee.
            4)    Rekomendasi harus mempertimbangkan asas biaya – manfaat.
5)   Rekomendasi harus merepresentasikan jangka waktu dalam menyelesaikan atau mengatasi masalah.
Kesimpulan atau pendapat harus menempatkan berbagai temuan audit dalam perspektif yang didasarkan kepada implikasi dari temuan audit tersebut secara keseluruhan. Menurut Sawyer et al. (2005), kesimpulan (conclusion) harus ditunjang oleh fakta-fakta dan harus merupakan pertimbangan profesional, bukan berisi rincian yang tidak perlu. Dalam membuat kesimpulan, tim konsultan jelas memiliki peluang untuk memberikan kontribusi kepada organisasi. Jika tim konsultan secara konsisten menyajikan kesimpulan yang bisa menghasilkan kinerja yang baru dan tingkatan kinerja yang lebih tinggi, mengurangi biaya dan meningkatkan kualitas produksi, menghilangkan pekerjaan yang tidak dibutuhkan, mendayagunakan kekuatan teknologi, meningkatkan kepuasan pelanggan, meningkatkan jasa, dan meningkatkan posisi kompetitif organisasi, maka audit manajemen jelas bernilai.
Kesimpulan dapat dan seharusnya menyajikan tindakan potensial dan menunjukkan bahwa manfaat memperbaiki kesalahan akan melebihi biayanya. Besarnya kerugian yang ditunjukkan pada bagian akibat merupakan dasar dibutuhkannya tindakan perbaikan.

Penggunaan sumber daya secara ekonomis dan efisien
Menurut Tugiman (1997), audit manajemen harus menilai keekonomisan dan efisiensi penggunaan sumber daya yang ada. Manajemen bertanggung jawab menetapkan standar operasional yang dipergunakan untuk mengukur keekonomisan dan efisiensi penggunaan sumber daya dalam suatu kegiatan. Audit manajemen bertanggung jawab untuk menentukan beberapa hal sebagai berikut, yaitu:
1)   Telah ditetapkan suatu standar operasional untuk mengukur keekonomisan dan efisiensi;
2)   Standar operasional tersebut telah dipahami dan dipenuhi;
3)   Berbagai penyimpangan atau deviasi dari standar operasional telah diidentifikasi, dianalisis, dan diberitahukan kepada berbagai pihak yang bertanggung jawab untuk melakukan tindakan korektif;
4)   Tindakan korektif telah dilakukan.
Pemeriksaan yang berhubungan dengan keekonomisan dan efisiensi penggunaan sumber daya haruslah mengidentifikasi berbagai keadaan seperti:
1)   Fasilitas-fasilitas yang tidak dipergunakan sepenuhnya,
2)   Pekerjaan yang tidak produktif.
3)   Berbagai prosedur yang tidak dapat dibenarkan berdasarkan pertimbangan biaya, dan
4)   Terlalu banyak atau terlalu sedikitnya jumlah staf.

2.    Diskusi mengenai artikel
Defisiensi dalam hal ini adalah kekurangan-kekurangan atau kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh manajemen dan diungkapkan sebagai temuan audit dalam proses audit manajemen. Defisiensi ini harus diketahui dan diungkapkan selama proses audit manajemen. Hal ini penting agar manajemen mengetahui defisiensi apa yang ada di organisasi dan memperbaiki defisiensi tersebut.
Jenis-jenis defisiensi yang ada di organisasi menurut pandapat kami sangat banyak. Mungkin saja defisiensi tersebut disebabkan oleh lemahnya sistem yang dibuat oleh manajemen dan kurangnya kemampuan sumber daya manusia yang dimiliki oleh manajemen. Menurut pendapat kami, jenis-jenis defisiensi ini harus cepat diketahui oleh manajemen. Hal ini akan sangat membantu untuk memperbaiki kinerja organisasi sehingga organisasi dapat beradaptasi dengan lingkungan bisnis yang ada.
Defisiensi yang terdapat dalam organisasi harus diungkapkan pada saat akhir proses audit manajemen. Defisiensi-defisiensi yang ditemukan atau dalam hal ini merupakan temuan audit harus diungkapkan dengan jelas dan objektif kepada manajemen. Jika sudah diungkapkan secara jelas dan objektif, maka manajemen akan mengetahui bahwa sebenarnya organisasi memiliki kelemahan atau kekurangan. Dari defisiensi atau temuan audit ini nantinya akan diketahui penyebab defisiensi dan dampak atau akibat yang terjadi pada organisasi jika defisiensi ini tidak diperbaiki. Dari dampak atau akibat tersebut, manajemen akan mengetahui seberapa besar pengaruh defisiensi tersebut terhadap kinerja organisasi. Melihat dampak atau akibat yang mungkin terjadi pada organisasi yang terjadi akibat adanya defisiensi, maka disusunlah rekomendasi yang dapat dilaksanakan oleh manajemen. Rekomendasi ini dimaksudkan untuk menghilangkan adanya defisiensi atau paling tidak mengurangi dampak atau akibat defisiensi tersebut terhadap organisasi.
Tujuan dari ditemukannya defisiensi ini adalah agar organisasi dapat menggunakan sumber daya yang dimiliki secara ekonomis dan efisien. Mungkin saja defisiensi yang ada selama ini di organisasi mengakibatkan organisasi menggunakan sumber daya secara tidak baik. Rekomendasi yang dihasilkan dari proses audit manajemen akan membantu manajemen untuk menghilangkan defisiensi yang ada sehingga kinerja organisasi dapat meningkat.

3.    Kesimpulan
Berdasarkan artikel dan pembahasan, dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu
1.      Defisiensi dalam hal ini merupakan kekurangan atau kelemahan yang terdapat di organisasi. Jika defisiensi ini tidak dihilangkan maka akan berpengaruh terhadap kinerja organisasi.
2.      Defisiensi yang ditemukan selama proses audit manajemen harus dijelaskan dengan jelas dan objektif kepada manajemen.
3.    Rekomendasi yang dihasilkan pada akhir proses audit manajemen diharapkan dapat mengurangi defisiensi yang ada pada organisasi sehingga organisasi dapat menggunakan sumber daya yang dimiliki secara lebih ekonomis dan efisien.



DAFTAR PUSTAKA
                      
Craig-Cooper, Sir Michael., and Philippe De Backer. 1993. The Management Audit: How to Create an Effective Management Team. London: Pitman Publishing.

Gondodiyoto, Sanyoto. 2004. Program Kerja & Laporan Audit: Laporan Hasil Audit. Universitas Bina Nusantara, Jakarta.

Herbert, Leo. 1979. Auditing the Performance of Management. California: Lifetime Learning Publications.

Sawyer, Lawrence.B., Mortimer A. Dittenhofer, and James H. Scheiner. 2005. Sawyer’s Internal Auditing, 5th ed. Jakarta: Penerbit Salemba Empat.


Tugiman, Hiro. 1997. Standar Profesional Audit Internal. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Saturday, November 16, 2013

KONSEKUENSI EKONOMI DAN TEORI AKUNTANSI POSITIF




Konsekuensi Ekonomi dan Teori Akuntansi Positif

IKHTISAR
·   Motivasi kinerja manajer yang bertanggungjawab merupakan peran yang sama pentingnya bagi akuntansi keuangan seperti halnya penyediaan informasi bagi investor.
·     Maka para akuntan perlu memahami dan menghargai kepentingan manajemen dalam penyusunan laporan keuangan.
·    Sehingga akan muncul satu alur pemikiran baru yang, jika dilihat sekilas, jauh berbeda dari teori berbasis keputusan investor dan berorientasi pasar efisien.
·      Harus dipahami mengenai konsep konsekuensi ekonomi (Economic concequences).

Konsekuensi Ekonomi
·     Konsekuensi ekonomi adalah suatu konsep yang menekankan bahwa, terlepas dari implikasi teori pasar sekuritas yang efisien, pilihan kebijakan akuntansi dapat mempengaruhi nilai perusahaan.
·   Gagasan mengenai konsep ini adalah bahwa kebijakan akuntansi perusahaan dan perubahannya sangat penting bagi manajemen.
·   Pemahaman terhadap konsep konsekuensi ekonomi dari pilihan kebijakan akuntansi diperlukan karena dua alasan. Pertama konsep ini menarik dan pernyataan bahwa kebijakan akuntansi tidak penting tidak sesuai dengan pengalaman akuntan.

Teori Akuntansi Positif
·      Untuk menjawab asal-usul konsep konsekuensi ekonomi maka diperkenalkan teori akuntansi positif.
·      Teori ini didasarkan pada kontrak yang dijalin oleh perusahaan.
·      Kontrak tersebut seringkali didasarkan pada variabel akuntansi keuangan.
·      Dalam hal ini manajemen memilih kebijakan akuntansi untuk memaksimalkan kepentingan perusahaan.
·      TAP berusaha memprediksi kebijakan apa yang akan dipilih oleh manajer.


Organisasi Pembahasan








MUNCULNYA KONSEKUENSI EKONOMI
·  Konsep konsekuensi ekonomi muncul di sebuah artikel awal oleh Stephen Zeff (1978) yang berjudul “Timbulnya Konsekuensi Ekonomi (The Rise of Economic Consequences).”
·  Zeff mendefinisikan konsekuensi ekonomi sebagai “dampak pelaporan akuntansi terhadap perilaku pengambilan keputusan dari kalangan usaha, pemerintah, dan kreditor”.
·      Menurut Zeff  “intervensi pihak ketiga” sangat mempersulit penyusunan standar akuntansi.
·  Zeff menjelaskan mengenai tanggapan badan penyusun standar terhadap beragam intervensi  tersebut, yaitu memperluas perwakilan dalam badan standar tersebut.
·      Terlepas dari implikasi teori pasar yang efisien, pilihan kebijakan akuntansi memiliki konsekuensi ekonomi bagi berbagai pengguna laporan keuangan.
· Konsekuensi ekonomi semakin mempersulit penentuan standar akuntansi, yang memerlukan penyeimbangan antara pertimbangan politik dan akuntansi.

OPSI SAHAM KARYAWAN
·  Bidang pertama konsekuensi ekonomi adalah akuntansi untuk opsi saham yang dikeluarkan bagi manajemen dan dalam beberapa kasus, bagi karyawan lainnya, memberi mereka hak untuk membeli saham perusahaan dalam jangka waktu tertentu. Hal ini disebut Employee Stock Opsions (ESO).
·  Akuntansi untuk ESO mewajibkan perusahaan mengeluarkan ESO dengan nilai tetap untuk mencatat biaya yang sama dengan selisih antara nilai pasar saham pada tanggal pemberian opsi kepada karyawan dan harga pelaksanaan opsi tersebut.
·   Kebanyakan perusahaan yang memberikan ESO menetapkan harga pelaksanaannya sama dengan nilai pasar pada tanggal pemberiannya, sehingga nilai intrinsiknya nol. Akibatnya tidak ada biaya yang perlu dicatat bagi kompensasi ESO. Sebagai contoh, jika saham yang dijamin memiliki nilai pasar $10 pada tanggal pemberian, maka menetapkan harga pelaksanaan sebesar $10 tidak akan menghasilkan pencatatan biaya, sementara menetapkan harga pelaksanaan sebesar $8 memicu biaya sebesar $2 per ESO yang diberikan. Hal ini menyebabkan menurunnya pencatatan biaya kompensasi dan menaikkan pencatatan laba bersih.
·   Alasan tidak diwajibkannya pencatatan nilai wajar untuk ESO adalah sulit menetapkan nilainya. Sehingga muncul rumus Black/Sholes yang berasumsi bahwa opsi dapat diperdagangkan dengan bebas
·  Hal ini tidak dimungkinkan karena ESO tidak dapat dilaksanakan sampai tanggal penyerahan (vesting date). Juga, jika karyawan mengundurkan diri dari perusahaan sebelum dilakukannya penyerahan, maka opsi tersebut dinyatakan hangus, atau kalaupun belum dilaksanakan, mungkin ada pembatasan-pembatasan terhadap kemampuan karyawan untuk menjual saham yang diperolehnya.
·     Untuk mengatasi hal ini, FASB mengeluarkan exposure draft yang mengusulkan agar perusahaan mencatat biaya kompensasi berdasarkan nilai wajarnya pada tanggal pemberian ESO.
·   Namun, exposure draft ini ditolak karena muncul kekhawatiran akan konsekuensi ekonomi dari laporan laba yang lebih rendah yang akan dihasilkan. Konsekuensi yang dikhawatirkan tersebut mencakup harga saham yang lebih rendah, biaya modal yang lebih tinggi, kurangnya bakat manajerial, serta rendahnya motivasi manajer dan karyawan.
·  Hal ini dikarenakan tidak seperti umumnya biaya, ESO tidak memerlukan pembiayaan tunai. Intinya biaya ditanggung oleh para pemegang saham. Karena itu, jika ESO dilaksanakan dengan harga $10 ketika nilai pasar saham tersebut $30, maka biaya ex post bagi perusahaan dan para pemegang sahamny adalah $20. Dengan memberi pemegang saham sebesar $10, perusahaan tersebut melewatkan kesempatan untuk mengeluarkan saham dengan harga pasar sebesar $10.
·  Meskipun demikian, biaya ESO tersebut sangat sulit diukur secara reliabel. Hal ini karena karyawan mungkin melaksanakan opsi tersebut setelah tanggal penyerahan sampai tanggal kadaluwarsa. Biaya ex post bagi perusahaan pun akan tergantung pada selisih nilai pasar saham dan harga pelaksanaan pada saat itu. Untuk mengetahui nilai wajar ESO, perlu diketahui strategi pelaksanaan optimal karyawan.
·     Untuk mengatasi masalah ini, muncul model strategi yang disusun oleh Huddart (1994).
·  Dengan membuat beberapa asumsi, Huddart menunjukkan bahwa rumus Black/Sholes  dengan ESO yang ditahan sampai tanggal kadaluwarsa dapat menaikkan pencatatan nilai wajar ESO pada saat tanggal pemberian,
·     Ada tiga karakteristik opsi, yaitu pengembalian yang diharapkan dari menahan suatu opsi melebihi return saham yang diharapkan, opsi “potensi kenaikan”, opsi “deep-in-the-money”.
·   Selanjutnya akan muncul pertanyaan adalah keadaan di mana karyawan akan melaksanakan opsi tersebut?
·     Huddart mengidentifikasi ada dua keadaan. Pertama, jika ESO mencakup nilai uang sedikit, waktu sampai jatuh temponya singkat, dan karyawan tersebut diharuskan menahan saham yang diperolehnya, maka penghindaran risiko dapat memicu pelaksanaan lebih awal. Karena ada resiko substansial untuk terjadinya hasil nol, maka karyawan yang menghindari resiko (yang mengimbangkan antara resiko dan hasil) mungkin merasa bahwa pengurangan resiko pelaksanaan opsi saat ini daripada terus menahannya ternyata lebih besar daripada lebih rendahnya hasil yang diharapkan dari menahan saham tersebut.
·  Keadaan kedua terjadi ketika ESO menyangkut banyak uang, waktu sampai jatuh temponya singkat, dan karyawan dapat menahan maupun menjual saham yang diperolehnya dan menginvestasikan hasilnya pada aktiva yang tidak beresiko. Karena menahan aktiva yang tidak beresiko lebih disukai daripada menahan saham, maka karyawan akan melaksanakan opsi, menjual saham, dan membeli aktiva yang tidak beresiko.
·  Dalam penelitian empiris untuk menguji pelaksanaan awal, Huddart dan Lang (1996) mengkaji pola-pola pelaksanaan dari karyawan pada delapan perusahaan besar di Amerika Serikat selama periode sepuluh tahun. Mereka mendapati bahwa pelaksanaan lebih awal sering dilakukan, sesuai dengan asumsi penghindaran resiko yang dinyatakan oleh Huddart. Mereka juga mendapati bahwa variabel yang menjelaskan pelaksanaan awal secara empiris, seperti waktu sampai jatuh tempo dan sampai sejauh mana ESO tersebut menyangkut uang, dikatakan “broadly consistent” dengan prediksi model tersebut.
·    Penelitian selanjutnya cenderung mengkonfirmasi tendensi Black/Sholes untuk terlalu melebihkan pencatatan biaya ESO secara ex post. Hall dan Murphy (2002), dengan menggunakan pendekatan yang berbeda dari Huddart, juga menunjukkan probabilitas substansial dari pelaksanaan awal, dan menunjukkan bahwa hal tersebut secara signifikan mengurangi biaya ESO di bawah Black/Sholes. Analisis mereka juga menunjukkan keragaman dalam keputusan pelaksanaan oleh karyawan.
·  Aboody dan Kasznnik (2000) mempelajari terhadap praktek pengumuman informasi dari CEO seputar tanggal pemberian ESO. Mereka mendapati bahwa, secara rata-rata, CEO perusahaan yang memiliki ESO terjadwal menggunakan beragam taktik untuk memanipulasi harga saham lebih rendah sebelum tanggal pembelian, dan memanipulasi harga agar naik setelah tanggal pembelian tersebut. Salah satu taktiknya adalah dengan mengumumkan lebih awal kabar buruk dari laporan pendapatan triwulan yang tertunda, namun kabar baiknya tidak dilaporkan. Taktik lainnya mencakup dimasukkannya estimasi pendapatan para analis yang berpengaruh dan penentuan waktu yang selektif atas pengumuman estimasi mereka sendiri.

REAKSI PASAR SAHAM TERHADAP AKUNTANSI SUCCESFULL-EFFORT DI INDUSTRI MINYAK DAN GAS
·     Pembahasan didasarkan pada artikel “The Impact of Accounting Regulation on the Stock Market: The Case of Oil and Gas Companies” (1979) yang ditulis oleh Lev.
·  Penelitian ini terkait dengan kebijakan SFAS 19 yang mewajibkan perusahaan migas di AS mencatat biaya eksplorasi dengan metode succesfull-effort.
·  Karena pilihan kebijakan akuntansi untuk biaya eksplorasi mencerminkan kebijakan akuntansi, maka teori pasar sekuritas efisien memprediksi bahwa seharusnya manajer tidak keberatan menggunakan metode succesfull-effort.
·  Secara khusus, terdapat kekhawatiran mengenai dampak yang mungkin merugikan terhadap persaingan dalam industri migas.
·  Kekhawatiran tersebut adalah bahwa sebagian besar perusahaan kecil yang bergerak di bidang migas menggunakan akuntansi full-cost. Ini karena metode succesfull-effort cenderung menghasilkan laba bersih yang lebih kecil daripada metode full-cost, terutama untuk perusahaan yang aktif melakukan eksplorasi, maka ditakutkan bahwa laba bersih yang lebih kecil dalam laporan akan menjadikan perusahaan kecil lebih sulit menghimpun modal, dan karenanya akan mengurangi persaingan dan cakupan eksplorasi.
·     Lev memulai penelitian dengan menentukan apakah harga sekuritas perusahaan migas terpengaruh oleh penggunaan metode akuntansi succesfull-effort.
·  Lev mengambil sampel 49 perusahaan yang menggunakan metode full-cost dan sampel kontrol yang terdiri dari 34 perusahaan yang menggunakan succesfull-effort.
·    Hasil penelitiannya adalah terjadi pengembalian abnormal negatif rata-rata yang signifikan untuk saham-saham dari 49 perusahaan yang menggunakan metode full-cost. Untuk ke-34 perusahaan yang telah menggunakan metode akuntansi succesfull-effort, dan relatif tidak terpengaruh oleh exposure draft, pengembalian negatif rata-rata-nya bernilai relatif kecil.
·     Untuk kondisi saham, Dickman dan Smith (1979) dan Kross (1982) mendapati tidak adanya reaksi harga sekuritas terhadap perubahan standar akuntansi. Mungkin ini disebabkan karena adanya inefisiensi pasar sekuritas.
·  Alasan lain adalah bahwa perusahaan yang menggunakan full-cost akan menghadapi kesulitan menghimpun modal atau mungkin mengurangi aktivitas eksplorasi begitu mereka dipaksa menggunakan succesfull-effort.
·  Alasan lain adalah bahwa pengurangan laba bersih yang dilaporkan dan ekuitas para pemegang saham setelah beralih menggunakan metode succesfull-effort mungkin mempengaruhi rasio bonus manajemen dan perjanjian pinjaman. Pasar dapat bereaksi terhadap manajer yang gagal merepons masalah seperti ini.
·  Bagaimanapun juga hasil penelitian Lev menyatakan bahwa pasar memang bereaksi terhadap metode akuntansi yang dipilih.
·      Akibatnya, terbukti bahwa perubahan kebijakan akuntansi dapat memiliki dampak harga sekuritas, karenanya memperkuat argumen konsekuensi ekonomi.

HUBUNGAN ANTARA TEORI PASAR SEKURITAS EFISIEN DAN KONSEKUENSI EKONOMI
·   Teori pasar sekuritas yang efisien tidak meramalkan reaksi harga terhadap perubahan kebijakan akuntansi yang tidak mempengaruhi probabilitas jaminan dan aliran kas.
·     Dengan kata lain, teori pasar yang efisien menyiratkan pentingnya pengungkapan penuh, termasuk pengungkapan kebijakan akuntansi. Meskipun demikian, begitu pengungkapan penuh terhadap kebijakan akuntansi dilakukan, pasar akan menafsirkan nilai sekuritas perusahaan berdasarkan kebijakan yang dipakai.
·   Jika dilihat dari pengguna laporan keuangan, manajemen dan investor, tentu akan bereaksi terhadap perubahan kebijakan akuntansi. Berbagai reaksi dirumuskan dalam konsep konsekuensi ekonomi.
·    Karena itu, kebijakan akuntansi berpotensi mempengaruhi keputusan manajemen yang sebenarnya, termasuk keputusan untuk mengintervensi, baik mendukung atau menentang usulan standar akuntansi.

TEORI AKUNTANSI POSITIF
Garis Besar Teori Akuntansi Positif
·   TAP berkenaan dengan memprediksi tindakan-tindakan sebagai pilihan kebijakan akuntansi oleh manajer perusahaan dan bagaimana manajer akan merespon standar akuntansi baru yang diusulkan.
·   Misalkan dapatkah kita memprediksi, manajer perusahaan migas akan memilih kebijakan akuntansi dengan metode succesfull-effort ataukah metode full-cost?
·   TAP beranggapan bahwa perusahaan akan mengorganisir diri dalam cara yang efisien sehingga memaksimalkan prospek untuk bertahan hidup.
· Perusahaan dapat dipandang sebagai kumpulan kontrak (nexus of contract) artinya pengorganisasiannya dapat ditentukan oleh kontrak yang dijalinnya. Akan muncul biaya kontrak dan kontrak yang efisien.
·  TAP berpendapat kebijakan akuntansi akan dipilih sebagai bagian dari masalah yang lebih dari pencapaian manajemen perusahaan yang lebih efisien.
·  TAP tidak menyarankan perusahaan harus menjelaskan sepenuhnya kebijakan akuntansi yang dipergunakan.
· TAP berpendapat bahwa manajer sifatnya rasional dan memilih kebijakan akuntansi demi kepentingan perusahaan.
·  Tujuan TAP adalah untuk memahami dan memprediksi pilihan kebijakan akutansi manajerial dalam perusahaan yang berbeda-beda. Akan muncul teori normatif.
·  Baik-tidaknya kemampuan teori normatif melakukan prediksi tergantung sampai sejauh mana setiap individu sungguh-sungguh mengambil keputusan sesuai teori tersebut.

Tiga Hipotesis Teori Akuntansi Positif
·    Hipotesis rencana bonus (The bonus plan hypothesis)
Para manajer perusahaan dengan rencana bonus lebih mungkin memilih prosedur akuntansi yang menggeser pendapatan yang dilaporkan dari masa datang ke saat ini.
·     Hipotesis persyaratan perjanjian pinjaman (The debt covenant hypothesis)
Semakin besar perusahaan melakukan pengingkaran persyaratan perjanjian pinjaman berbasis akuntansi, semakin besar kemungkinan manajer memilih prosedur akuntansi yang menggeser pendapatan dari periode akan datang ke periode berjalan.
·     Hipotesis biaya politik (The political cost hypothesis)
Semakin besar biaya politik yang dihadapi oleh perusahaan, semakin besar kemungkinan manajer memilih prosedur akuntansi yang menangguhkan pendapatan yang dilaporkan dari periode berjalan ke periode akan datang.
·     Ketiga hipotesis tersebut membentuk komponen yang penting dari TAP.
·     Ketiga hipotesis TAP dapat juga ditafsirkan dari perspektif perjanjian kontrak yang efisien.       

Penelitian Teori Akuntansi Positif
·   TAP telah menghasilkan sejumlah besar penelitian empiris. Sebagai contoh adalah tulisan Lev (1979). Penelitian Lev membantu kita memahami mengapa perusahaan yang berbeda-beda mungkin memilih kebijakan akuntansi yang brbeda-beda.
·  Banyak penelitian TAP untuk pengujian hipotesis. Salah satunya Healy (1985) yang meneliti hipotesis rencana bonus. Hasil penelitiannya adalah menemukan bukti bahwa manajer perusahaan yang memiliki rencana bonus berdasarkan pada laba bersih mereka yang dilaporkan secara sistematis menggunakan kebijakan akrual sedemikian rupa untuk memaksimalkan bonus yang mereka harapkan.
·   Dichev dan Skinner (2002) mengkaji hipotesis persyaratan perjanjian pinjaman. Mereka meneliti sampel yang terdiri dari banyak persetujuan pemberian pinjaman privat (pinjaman yang tidak dapat diperdagangkan). Mereka memusatkan perhatian pada perjanjian-perjanjian dengan persyaratan yang didasarkan pada dipertahankannya rasio lancar tertentu atau pada dipertahankannya jumlah nilai bersih tertentu.
·  Jones (1991) mempelajari tindakan perusahaan untuk menurunkan laporan laba bersih selama penelitian keringanan impor. Pemberian keringanan kepada perusahaan yang dipengaruhi oleh persaingan dengan luar negeri sebagian merupakan keputusan politik.     

Membedakan Versi Kontrak Efisien dan Oportunis
·  Ketiga hipotesis TAP dinyatakan dalam bentuk oportunis, artinya berasumsi bahwa manajer memilih kebijakan akuntansi untuk memaksimalkan utilitas dibandingkan remunerasi yang diterima, kontrak hutang, dan biaya politik.
· Hipotesis tersebut juga dapat dinyatakan dalam bentuk efisiensinya, atas asumsi kontrak kompensasi, sistem kontrol internal, manajemen perusahaan yang baik, dapat membatasi oportunisme dan memotivasi manajer memilih kebijakan akuntansi untuk mengendalikan biaya kontrak.
·   Christie dan Zimmerman (1994) menyelidiki mengenai tingkat pilihan kebijakan akuntansi yang meningkatkan pendapatan dalam sampel yang terdiri dari perusahaan yang menjadi target pengambilalihan. Alasan mereka adalah bahwa jika pilihan kebijakan akuntansi yang oportunis sedang terjadi, pilihan seperti ini akan lebih tak terkendali dalam perusahaan yang kemudian akan diambil, karena manajemen yang saat itu berusaha menepis tawaran pengambilalihan dengan memaksimalkan posisi keuangan dan laba bersih yang dilaporkan.
·  Guay (1999) mempelajari aktivitas pinjaman bank perusahaan pada tahun pertama perusahaan melakukannya. Ia berpendapat bahwa kontrak kompensasi yang efisien akan mendorong manajer untuk mengurangi resiko-resiko harga yang spesifik bagi perusahaan (misalnya perusahaan migas menerapkan cegah resiko harga produksi tahun depan), karena pengurangan resiko tersebut mendorong para manajer untuk mengambil resiko-resiko lain yang spesifik bagi perusahaan.
·   Watts (2003) menyatakan bahwa akuntansi konservatif juga dapat berperan dalam kontrak yang efisien. Disini berlaku hipotesis rencana bonus dimana hipotesis tersebut menyiratkan bahwa para manajer tergoda untuk meningkatkan estimasi–estimasi aliran kas akan datang lebih tinggi, dan menggunakannya untuk membenarkan pencatatan pendapatan secara premature dan penilaian aktiva terlalu tinggi, yang keduanya menggeser pendapatan dari masa akan datang ke masa kini.
·     Penelitian Basu (1993) mendapati bahwa semakin konservatif akuntansinya, semakin tinggi rating hutang perusahaan yang mengakibatkan rendahnya biaya bunga, dengan semua hal dianggap sama. Hasil tersebut sesuai dengan kontrak hutang yang efisien karena perusahaan menjadi semakin konservatif jika kebutuhannya makin besar. Jika manajer berperilaku oportunistis, mereka tidak akan begitu memperhatikan biaya bunga dan karenanya akan berusaha mengeluarkan diri dari ancaman pelanggaran persyaratan pinjaman hutang dengan menggeser ke pendapatan periode berjalan dari pendapatan yang akan datang.

Kesimpulan Konsekuensi Ekonomi dan Teori Akuntansi Positif
·      TAP berusaha memahami dan memprediksikan pilihan kebijakan akuntansi perusahaan.
·  Secara umum, TAP menilai bahwa pilihan kebijakan akuntansi adalah bagian dari kebutuhan perusahaan secara menyeluruh untuk meminimalkan biaya modal dan biaya kontrak.
·   TAP tidak menyiratkan bahwa pilihan kebijakan akuntansi perusahaan harus dijelaskan dengan khusus. Justru biasanya akan lebih efisien jika ada sekumpulan kebijakan akuntansi yang dapat dipilih oleh manajemen.
·      Memberi keleluasaan kepada manajemen dalam pilihan kebijakan akuntansi akan memberi respon fleksibel dalam lingkungan perusahaan dan terhadap hasil kontrak yang tidak dapat diramalkan. Namun demikian, ini juga memberi peluang terjadinya perilaku manajemen yang oportunistis dalam pilihan kebijakan akuntansi.
· Dari perspektif TAP, tidak sulit memahami mengapa kebijakan akuntansi dapat memiliki konsekuensi ekonomi. Dari perspektif efisiensi, kumpulan kebijakan yang tersedia mempengaruhi fleksibilitas perusahaan. Dari perspektif opportunis, kemampuan manajemen untuk memilih kebijakan akuntansi untuk keuntungannya sendiri pun terpengaruhi.