Friday, May 8, 2009

Korea Ingin Membeli Teknologi Indonesia?

Korea Ingin Membeli Teknologi Indonesia ?
Diilhami kejadian di garasi, Tjokorda Raka Sukawati menemukan teknik baru landasan putar untuk menggeser beton ratusan ton. Teknologi ini sudah teruji secara teknis maupun ekonomis. Manfaatnya juga dirasakan negara-negara tetangga.
Membangun jalan layang tentu bukan pekerjaan gampang. Apalagi, badan jalan beton itu harus bertengger persis memanjang di atas Jalan By Pass A. Yani, Jakarta, yang sejak awal 1980-an padatnya sudah ampun-ampunan. Situasi itu yang membuat para direksi PT Hutama Karya, sebuah badan usaha milik negara di bawah Departemen Pekerjaaan Umum (PU), pening kepala. Sebagai kontraktor yang akan membangun jalan layang tersebut, Hutama Karya harus bisa memastikan by pass itu tetap berfungsi.
Di situlah masalahnya. Maka, setelah resmi mendapat order membangun badan jalan layang antara Cawang dan Priok, sepanjang 15,6 km itu, sekitar pertengahan 1987, para direksi Hutama Karya berdiskusi. Persoalan rumit diurai. Yang diperlukan untuk menyangga badan jalan itu adalah deretan tiang beton, satu sama lain berjarak 30 meter, yang di atasnya membentang lengan beton besar selebar 22 meter.
Batang vertikalnya (pier shaft) berbentuk segi enam, bergaris tengah 4 meter, berdiri di jalur hijau. Tidak sulit. Yang repot, mengecor lengannya (pier head). Kalau dengan cara konvensional, ya, memasang besi penyangga (bekesting) di bawah bentangan lengan itu. Tapi, bekesting itu akan menyumbat jalan raya by pass. Cara lain, dengan bekesting gantung. Tapi, itu membuat biaya membengkak berlipat.
Di tengah kebimbangan itu, Ir. Tjokorda Raka Sukawati, ketika itu menjabat sebagai Direktur Keuangan di Hutama Karya, mengajukan gagasan. “Bagaimana kalau bikin tiangnya dulu. Lengannya dibuat sejajar dengan jalur hijau, setelah itu baru diputar membentuk bahu,” kata Tjokorda, lulusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB) 1962 itu.

1. Bangun tiang jalan.
2. Lengan beton jalan dibangun di antara dua jalur jalan, sejajar dengan jalanan yang padat di bawahnya.
3. Lengan beton jalan diputar 90 derajat. Jalan layang pun kemudian dibangun di atas lengan ini.
Usul ini disambut antusias oleh Direktur Perencanaan, Wiyoto Wiyono. Rapat sepakat. Tapi, setelah itu Tjokorda bingung. Bagaimana caranya? Lengan itu nantinya seberat 480 ton. “Yah, saya juga nggak tahu, wong saya cuma usul, kok. Besok saja saya pikir lagi,” kata Tjokorda, cuek.
Pada hari Minggu yang cerah, Tjokorda asyik menekuni hobinya mengutak-atik mobil kesayangannya, Mercedes 1974. Hidung mobil diangkat dengan dongkrak, dua roda belakang bertumpu di lantai licin beroli. “Begitu tersentuh, eh, badan mobil bergeser, berputar dengan sumbu batang dongkrak itu,” kata bangsawan dari Puri Sukawati, Gianyar, Bali, itu mengenang. Satu hal yang ia catat, dengan meniadakan gaya geseknya, benda seberat apa pun akan mudah digeser.
Inspirasi pun menyelinap ke benak Tjokorda. Pompa hidrolik bisa dipakai untuk mengangkat benda berat, dan bila bertumpu pada permukaan yang licin, ia mudah digeser. “Jadi, diangkat dulu, diputar, lalu diturunkan lagi,” gumamnya. Ia sudah jauh mengawang, membayangkan menggeser lengan beton pier head seberat 480 ton itu.
Dengan semangat tinggi, Tjokorda pun membuat percobaan. Sebuah silinder bergaris tengah 20 cm dibuat sebagai dongkrak hidrolik dan ditindih beban beton 80 ton. “Bisa diangkat, diputar sedikit, tapi pas dilepas nggak bisa turun,” katanya terkekeh. Rupanya, posisi dongkrak agak miring. Tjokorda menyempurnakannya. Posisinya pun ditentukan persis di titik berat lengan beton di atasnya.
Untuk membuat desain yang pas, Tjokorda mulai dengan rancangan hidrolisnya. Ia mengacu pada Hukum Pascal. Ilmuwan asal Prancis itu mengatakan: kalau dalam suatu ruang tertutup diisi zat cair dan diberikan tekanan, tekanan itu akan diteruskan.Zat cair di sini adalah minyak oli. Bila tekanan P dimasukkan ke dalam ruang seluas A, maka menimbulkan gaya yang besarnya P.A. Rumus itu lantas digabungkan dengan beberapa parameter dan memberikan Rumus Sukawati, sesuai nama Tjokorda Raka. Rumus gabungan ini orisinal. “Tak ada buku yang menggabungkan rumus itu jadi satu karena memang tidak ada kebutuhannya,” kata pria kelahiran Ubud, Bali, 3 Mei 1931, yang memperoleh gelar doktor dari Universitas Gadjah Mada pada 1996 itu.
Di kepala Tjokorda memang masih sibuk dengan perhitungan rumit soal variabel yang mempengaruhi sistem tersebut. Misalnya saja, jenis minyaknya yang tak boleh rusak kekentalannya, meski di bawah tekanan tinggi. Urusan minyak menjadi hal paling krusial, karena minyak ini yang akan meneruskan tekanan untuk mengangkat beton yang berat itu.
Setelah semua pesiapan selesai, Tjokorda mengerjakan rancangan finalnya. Sebuah landasan putar untuk lengan beton tadi sudah siap bekerja. Ia menamainya landasan putar bebas hambatan (LPBH). Bentuknya, dua piring besi bergaris tengah 80 cm, yang saling menangkup. Meski tebalnya hanya 5 cm, piring dari besi cor FCD-50 itu mampu menahan beban sampai 625 ton.
Ke dalam ruang di antara kedua piring itu dipompakan minyak oli. Sebuah seal karet menyekat rongga di antara tepian piring besi itu untuk menjaga minyak tak terdorong keluar, meski dalam tekanan tinggi. Lewat pipa kecil, minyak dalam tangkupan piring itu dihubungkan ke sebuah pompa hidrolik. Di atas kertas, sistem hidrolik itu mampu mengangkat beban beban ketika diberikan tekanan 78 kg per cm2.
Bagi Tjokorda, feeling-nya saat bekerja bisa melampaui rumusan ilmiah. Secara teknik, memang penemuannya tak sempat diuji. Ini karena Tjokorda sudah kepepet deadline, hingga tidak sempat lama-lama bertapa di laboratorium. Sebelum memulai proyeknya, Tjokorda menyempatkan diri bersembahyang –ia menganut Hindu– di atas konstruksi tersebut.
Tjokorda terbilang nekat. Ia yakin sistemnya bisa bekerja. “Kalau nggak bisa muter, besok pagi saya akan langsung menghadap Menteri PU dan minta berhenti,” ujarnya. Maka, tanggal 27 Juli 1988 pukul 10 malam, uji coba LPBH dilakukan. Pompa hidrolik dioperasikan hingga titik tekan 78 kg per cm2. Lengan pier head itu, meski bekesting-nya telah dilepas, bisa mengambang 8 mm di atas atap pier shaft. Lalu, wuss… dengan dorongan ringan saja, lengan beton raksasa itu berputas 90 derajat.
Pier shaft sudah pada posisi sempurna. Secara perlahan, minyak dipompa keluar, dan lengan beton itu merapat ke tiangnya. Sistem LPBH dimatikan. Perlu alat berat untuk menggesernya lagi. Toh, karena khawatir kontruksi itu bergeser, Tjokorda memancang delapan batang besi berdiameter 3,6 cm untuk memaku pier head ke pier shaft lewat lubang yang telah disiapkan.
Satu demi satu LPBH dipraktekkan. Pada pemasangan ke-85, awal November 1989, Presiden Soeharto ikut menyaksikannya. Nama Sasrabahu (baca: Sosrobahu) lantas dihadiahkan Presiden H.M. Soeharto untuk LPBH ciptakan Tjokorda Raka Sukawati itu. Sejak itulah, karya ini dikenal sebagai Teknologi Sosrobahu, mengambil tokoh perkasa dari cerita sisipan Mahabharata.

Keberhasilan Sosrobahu itu membuat nama Tjokorda Raka Sukawati sontak kondang di mana-mana. Ia diundang ceramah di pelbagai tempat, selain dipromosikan menjadi Direktur Utama PT Hutama Karya. “Temuan ini 80% atas kehendak Tuhan. Dia menginginkannya lahir di Indonesia, melalui orang yang nggak pinter,” kata Tjokorda, merendah.
Temuannya itu malah dicontoh oleh insinyur Amerika untuk membangun jembatan di Seattle. Mereka bahkan patuh pada tekanan minyak 78 kg per cm2 itu, meski angka itu sendiri masih menjadi misteri bagi Tjokorda ketika itu. Setelah Sosrobahu kondang, Tjokorda membuat laboratorium sendiri dan melakukan penelitian ilmiah. Perhitungan susulan ini menghasilkan angka teknis tekanan 78,05 kg per cm2, nyaris persis dengan angka yang diperolehnya lewat wangsit.
Berkat teknik Sosrobahu itu, Tjokorda mendapat hak paten dari Pemerintah Jepang, Indonesia, Malaysia, selain Filipina. Dirjen Hak Cipta Paten dan Merek di Indonesia mengeluarkan hak patennya pada 1995, sedangkan lembaga di Jepang malah sudah mengeluarkannya tahun 1992.Kini pendiri Fakultas Teknik Universitas Udayana ini sudah pensiun dari Hutama Karya.
Tapi ia tidak pernah berhenti memutar otak. Tjokorda sudah menghasilkan juga versi kedua Sosrobahu. Versi pertamanya memakai angker baja yang disusupkan ke beton. Versi keduanya hanya dengan memasang kupingan yang berlubang di tengah. Lebih sederhana dan cuma perlu waktu pemutaran dan pemasangan kurang lebih 45 menit. Yang versi perama butuh waktu dua hari.
Hingga saat ini, teknologi Sosrobahu sudah dioperasikan untuk 298 tiang jalan layang di kota Manila, dan 135 lainnya di Kuala Lumpur. Korea Selatan hingga saat ini masih keukeuh ingin membeli hak patennya. Dalam perhitungan eksak, Sosrobahu akan tetap bertahan hingga 100 tahun mendatang.Menurut Dr. Drajat Hoedajanto, MEng, pakar struktur dari ITB, Sosrobahu pada dasarnya hanya metode sangat sederhana untuk pelaksanaan (memutar bahu jalan).
Sistem ini cocok dipakai pada elevated tol road (jalan tol dalam kota), yang biasanya mengalami kendala lalu lintas di bawahnya yang padat. “Besar atau kecil penemuan, yang penting manfaatnya. Sosrobahu terbukti bermanfaat pada proses pembangunan jalan layang,” kata Drajat kepada wartawan Gatra Wisnu Aji. Drajat menyebutnya sangat aplikatif. Dari segi teknis dan ekonomis, teknik ini telah teruji.
Toh, tidak ada gading yang tak retak. Di ujung kariernya, Tjokorda sempat terseret-seret persoalan KKN yang melibatkan instansinya, Hutama Karya. Tiba-tiba, Tjokorda harus berhubungan dengan masalah commercial paper, hal yang asing bagi seorang insinyur seperti dia. Ia sempat berurusan dengan pengadilan. Kasus ini terkuak menyusul terjadinya krisis ekonomi 1998, yang membuat banyak perusahaan konstruksi tergencet masalah.
Namun, waktu pula yang membuktikannya. Dalam usianya 73 tahun, Tjokorda hidup bersahaja. Bila ke Jakarta, terutama untuk keperluan berobat untuk penyakit prostatnya, ia tinggal di rumah sederhana di Jalan Cililin II, Kebayoran Baru, ditemani sebuah laptop yang uzur. Tjokorda lebih banyak menghabiskan waktunya di Bali, kampung halamannya. Ia mengisi hari tuanya dengan mengajar di jenjang Pascasarjana Bidang Teknik Sipil di Universitas Udayana, sambil menunggui cucunya yang semata wayang.

Thursday, May 7, 2009

Harapan terhadap Pemimpin Masa Depan Indonesia

Ada anggapan yang mengatakan bahwa pemimpin itu tidak diciptakan, namun dilahirkan. Anggapan ini tentu saja membuat sebagian besar masyarakat berpikir bahwa menjadi seorang pemimpin itu tidaklah mudah. Butuh keahlian lebih untuk menjadi seorang pemimpin yang dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat. Namun, jika kita kaji secara lebih mendalam, kurangnya regenerasi pemimpin di kelompok-kelompok masyarakat disebabkan karena hilangnya kesadaran dan kemampuan generasi muda untuk meyakinkan dirinya sebagai pemimpin. Apalagi, ditambah dengan sistem yang selalu mengagungkan kaum tua dengan alasan memiliki pengalaman yang lebih, hancurlah harapan generasi muda untuk muncul sebagai sebuah sistem kepemimpinan yang baru. Padahal, bukan tidak mungkin, generasi kepemimpinan yang didominasi oleh generasi muda memiliki pemikiran-pemikiran yang lebih kreatif dan optimis dibandingkan dengan pemikiran dari kaum tua. Hal ini tentu saja mengelompokkan masyarakat ke dalam dua bagian. Bagian yang pro kaum muda dan bagian yang pro kaum tua. Masyarakat yang setuju dengan kepemimpinan kaum muda tentu saja mengharapkan suatu kebijakan yang revolusioner dan kebijakan yang lebih menghargai masyarakat kecil. Kelompok pro kaum tua lebih mengutamakan kebijakan yang didasarkan oleh pengalaman dalam pemerintahan yang lebih dimiliki oleh pemimpin yang telah berumur. Namun, jurang pemisah antara kepemimpinan genarasi muda dan generasi tua dapat dipisahkan dengan melihat permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa ini. Hal ini lebih dimaksudkan untuk melihat seperti apakah pemimpin yang sesuai dengan harapan masyarakat Indonesia.
Sebagai negara yang sedang berkembang, Indonesia memiliki barbagai masalah mendasar yang harus segera diselesaikan. Kemiskinan dan kelaparan terus menghantui semua daerah di tanah air yang subur ini. Bidang pendidikan yang terus menuai kecaman mulai dari kesejahteraan guru dan dosen yang tidak diperhatikan, sarana prasarana yang ala kadarnya, sampai mulai masuknya anarkisme ke dalam sekolah dan kampus. Belum lagi masalah politik yang semakin hari semakin marak dengan banyaknya politisi yang menjadikan arena politik nasional sebagai tempat untuk mencari kesenangan pribadi dan kelompoknya. Masalah yang ada di bangsa ini semakin berat dengan adanya krisis global yang dihadapi oleh dunia perekonomian. Digoyang sedikit, bukan tidak mungkin bangsa ini akan roboh karena tidak mampu menahan beratnya masalah sendiri. Sebenarnya, permasalahan bangsa ini muncul dari dalam diri sendiri. Bangsa ini terlalu mengagungkan sistem perekonomian yang selalu mengharapkan bantuan asing. Bantuan inilah yang nyatanya membawa bangsa ini di jalur krisis. Terlebih lagi, kebijakan soal pertanian, perdagangan, dan perindustrian dibuat untuk menarik lebih banyak investor penanam modal tanpa memperhatikan kepentingan masyarakat banyak yang terlibat di tiga sektor vital tersebut. Bangsa ini seharusnya sudah bangun dari tidurnya yang terlalu lelap dan mulai melihat sekelilingnya. Masyarakat di negara lain sudah mulai berpikir dan bertindak selayaknya manusia yang hidup di zaman globalisasi yang sangat mengutamakan kompetensi dan kemampuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan, masyarakat kita lebih tertarik dengan masalah-masalah sosial yang tidak akan habis permasalahannya jika dibahas satu persatu. Perselingkuhan, perjudian, dan pencurian seolah-olah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat kita yang tertalu terikat pada hegemonitas sosial. Jika tidak diobati sesegera mungkin, penyakit bangsa ini akan menjadi semakin bartambah berat dan susah untuk disembuhkan. Bangsa ini juga seharusnya sadar memiliki sumber daya manusia yang besar. Sumber daya ini dapat dimanfaatkan untuk membangun bangsa secara keseluruhan. Membangun tidak hanya berdasarkan keadaan sekarang, namun juga memikirkan keadaan selanjutnya.
Masalah yang begitu banyak melanda bangsa ini sebenarnya disebabkan oleh berbagai macam faktor. Kurangnya rasa nasionalisme masyarakat bangsa ini, ketidakpedulian petinggi pemerintahan dengan kondisi masyarakat di lapangan, dan rendahnya keterlibatan masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pemerintahan. Namun, diantara semua faktor tersebut salah satu faktor yang paling berperan tentu saja adalah faktor regenerasi kepemimpinan. Kepemimpinan di negeri ini masih sangat memprihatinkan, yang diperhatikan hanyalah kekuasaan semata. Kekuasaan ini hanya dimanfaatkan segelintir kelompok untuk mencapai tujuannya tanpa memikirkan keadaan masyarakat dalam cakupan yang lebih luas. Bangsa ini masih sulit untuk melahirkan seorang pemimpin yang revolusioner. Seorang pemimpin yang berani mendobrak sistem kepeminpinan yang hanya memikirkan kekuasaan belaka. Seorang pemimpin yang berani untuk merubah tatanan sistem pemerintahan yang tidak lagi memikirkan tentang kekuasaan, tetapi lebih berorientasi dalam pengembangan jati diri bangsa secara keseluruhan. Patut kita sadari bersama bangsa ini perlu memikirkan pemimpin untuk generasi selanjutnya. Perlu adanya suatu mata rantai kepemimpinan yang terus berlanjut agar setiap generasi memiliki hak sejarah yang sama dalam membangun bangsa ini. Sudah saatnya bangsa ini melahirkan pemimpin-pemimpin potensial yang dapat mengeluarkan pendapat yang benar-benar menyentuh kepentingan masyarakat luas.
Banyak kriteria yang dapat diungkapkan untuk menggambarkan seperti apa pemimpin yang sesuai untuk menyelesaikan permasalahan di negeri ini. Jujur, bijaksana, dan ungkapan-ungkapan manis lainnya mungkin sesuai untuk pemimpin yang sesuai dengan harapan. Namun, permasalahan mendasar bangsa ini tidak hanya dapat diselesaikan dengan bertindak jujur dan bijaksana. Perlu suatu kekuatan yang lebih untuk meyakinkan segenap komponen bangsa ini agar segera sadar bahwa bangsa ini memiliki kesempatan untuk bangkit dan berdiri di bawah kakinya sendiri. Pemimpin di masa depan haruslah memiliki kesadaran pribadi bahwa dirinya dilahirkan untuk berkorban. Berkorban untuk kepentingan sosial masyarakat luas. Pemimpin harapan haruslah sadar memiliki tanggung jawab yang besar. Tanggung jawab ini harus dibuktikan dengan tindakan yang nyata, bukan hanya dengan ucapan-ucapan manis yang kerap disampaikan kepada masyarakat. Sebuah tanggung jawab yang akan dilihat oleh seluruh konstituen yang telah memilihnya. Selain itu, pikiran, perkataan, dan perbuatan seorang pemimpin haruslah mencerminkan manusia yang semestinya. Manusia yang sadar akan tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin besar. Di samping itu, seorang calon pemimpin tidak boleh buta dan tuli untuk melihat dan mendengar aspirasi masyarakat. Seorang pemimpin harus selalu berada di tengah dan memberikan pemahaman mengenai kondisi bangsa yang sebenarnya. Memang, dalam keadaan bangsa yang serba sulit seperti sekarang ini, harapan masyarakat terhadap kriteria calon pemimpin sangatlah beragam. Hampir semua pendapat tertuju pada pemimpin dengan sifat-sifat yang sempurna. Seorang calon pemimpin tidaklah harus memiliki kesempurnaan dalam dirinya. Namun, yang jauh lebih penting bahwa seorang calon pemimpin haruslah dapat memaksimalkan segala kemampuannya untuk meyakinkan masyarakat. Terlebih lagi, sangat sulit untuk menentukan gaya kepemimpinan yang sesuai untuk keadaan bangsa ini. Masalah yang sangat beragam membawa bangsa ini pada ketidakpercayaan terhadap kepemimpinan nasional. Pengaruh-pengaruh pemerintahan pada masa lalu masih menghiasi keadaan bangsa ini. Pemimpin masa depan haruslah sadar bahwa bangsa ini masih diselimuti trauma masa lalu. Pengalaman kepemimpinan menjadi keterampilan wajib yang harus dimiliki. Pengalaman akan memberikan gambaran awal mengenai kebijakan-kebijakan pemerintahan yang akan diambil. Pengalaman dapat menghindarkan seorang calon pemimpin pada pengambilan keputusan yang salah. Dalam hal ini, pengalaman menjadi salah satu faktor yang penting. Pengalaman menjadi satu keuntungan jika ditambah dengan memiliki sikap inspirator dan juga inovatif. Permasalahan bangsa ini tidak dapat diselesaikan dengan solusi yang sudah ada. Perlu adanya inovasi dan kreasi kebijakan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Kebijakan-kebijakan yang telah dibuat harus sesuai dengan kondisi permasalahan yang dihadapi. Permasalahan bangsa ini terlalu beragam. Butuh kebijakan yang mengarah pada pembaharuan.
Bangsa ini harus memilih pemimpin harapan untuk masa depan yang sesuai dengan kondisi permasalahan yang tengah dihadapi jika ingin segera bangkit dan melakukan perubahan. Gaya kepemimpinan yang mengagungkan pengalaman dari kaum tua dan disertai dengan jiwa inspirator dan kreatif dari kaum muda dapat menjadi salah satu pilihan untuk menjawab permasalahan kepemimpinan nasional. Pengalaman dibutuhkan untuk merumuskan berbagai kebijakan agar tidak keluar dari jalur yang telah ditetapkan. Sedangkan, jiwa inspirator dan kreatif diperlukan untuk menghasilkan kebijakan-kebijakan revolusioner yang dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang tengah dihadapi oleh bangsa ini. Sebuah kebijakan yang tidak hanya berpikir tentang kekuasaan semata, namun lebih mengutamakan kebaikan bagi masyarakat luas. Diharapkan dengan adanya perpaduan gaya kepemimpinan antara kaum tua dan kaum muda, tidak akan ada lagi jurang pemisah sistem atau gaya kepemimpinan nasional. Tidak akan ada lagi istilah bagi-bagi kekuasaan. Semua ini ditujukan untuk membawa bangsa ini keluar dari krisis sistem kepemimpinan nasional. Keluar dari berbagai macam permasalahan yang selama ini selalu mendera masyarakat bangsa ini. Semoga!

Monday, May 4, 2009

Pesona Bali

Bali, sebutan untuk pulau yang menyimpan berbagai macam pesona keindahan. Telusurilah keindahan pulau ini dan kamu akan mengerti betapa hebatnya kekuasaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa.

Saturday, May 2, 2009

Generasi Muda Hindu, mana peran kita?

Kita sebagai Generasi Muda Hindu sudah sepantasnya sadar dan ikut untuk membangun Bangsa Indonesia ini. Kita bisa memajukan Bangsa Indonesia bersama saudara-saudara kita yang lain. BHINNEKA TUNGGAL IKA TAN HANA DHARMA MANGRWA.

Harapan Masyarakat tentang Pemimpin Muda Indonesia


Generasi Muda Indonesia seharusnya sadar bahwa suatu saat nanti Bangsa Indonesia ini akan diusung di pundak mereka. Generasi Muda Indonesia cepatlah bangkit dan berjuang untuk membawa Bangsa Indonesia ini ke arah yang lebih baik lagi. Kita bisa karena kita mampu. BUKTIKAN!

HIDUP ITU PERJUANGAN

Hidup memang susah. Oleh karena itu, kita harus berjuang...