Jumat, 08 April 2011

Singapore Mass Rapid Transit (SMRT) : Solution Transportation Problem In Singapore


Singapore Mass Rapid Transit atau MRT Singapura adalah sebuah sistem angkutan cepat yang membentuk satu kesatuan dari sistem kereta api di Singapura dan membentang ke seluruh negara kota ini. Bagian pertama dari SMRT ini, antara Stasiun Yio Chu Kang dan Stasiun Toa Payoh, dibuka tahun 1987 dan menjadi sistem angkutan cepat tertua kedua di Asia Tenggara, setelah sistem LRT Manila. Jaringan ini telah berkembang cepat sebagai hasil dari tujuan dari Singapura untuk mengembangkan jaringan kereta yang lengkap sebagai faktor utama dari sistem angkutan umum di Singapura dengan perjalanan penumpang harian rata-rata 1,952 juta jiwa tahun 2009, hampir 63% dari 3,085 juta penumpang jaringan bus pada waktu yang sama. SMRT memiliki 79 stasiun dengan jalur sepanjang 129,7 kilometer dan beroperasi pada rel standar. Jalur rel ini dibangun oleh Land Transport Authority, sebuah badan milik Pemerintah Singapura yang memberi konsesi operasi kepada perusahaan laba SMRT Corporation dan SBS Transit. Operator-operator ini juga mengelola layanan bus dan taksi, sehingga menjamin adanya integrasi penuh layanan angkutan umum. SMRT ini dilengkapi oleh sistem Light Rail Transit (LRT) regional yang menghubungkan stasiun MRT dengan perumahan umum HDB. Layanan ini beroperasi mulai pukul 05:30 pagi waktu setempat dan berakhir sebelum pukul 01:00 pagi waktu setempat setiap hari dengan frekuensi tiga sampai delapan menit, dan layanan ini diperpanjang selama hari-hari libur.
Sejarah pembangunan dari MRT Singapura bermula dari ramalan perencanaan kota pada tahun 1967 dimana pada tahun 1992 diperlukan sistem transportasi kota di atas rel. Diawali sebuah debat, akhirnya parlemen Singapura menyimpulkan bahwa sistem transportasi hanya menggunakan bus tidak akan mencukupi karena akan memerlukan jalur jalan dengan adanya batasan lahan di negara tersebut. Biaya konstruksi awal MRT sebesar 5 milyar dolar Singapura adalah biaya termahal yang pernah dikeluarkan untuk sebuah proyek pada waktu itu, yang dimulai pada 22 Oktober 1983 di Jalan Shan yang terdapat di pusat kota Singapura. Jaringan SMRT dibangun bertahap dimana Jalur Utara-Selatan diutamakan karena melewati daerah pusat kota yang sangat memerlukan transportasi publik. Mass Rapid Transit Corporation (MRTC), selanjutnya diganti menjadi SMRT Corporation didirikan pada 14 Oktober 1983 untuk mengelola otoritas MRT. Pada 7 November 1987, bagian pertama dari Jalur Utara-Selatan mulai beroperasi yang terdiri dari lima stasiun dengan jarak enam kilometer. Lima belas stasiun lagi kemudian dibuka dan MRT Singapura resmi dibuka pada 12 Maret 1988 oleh Lee Kuan Yew, sebagai Perdana Menteri Singapura waktu itu. Sebanyak 21 stasiun ditambahkan dalam jaringan dimana pembukaan Stasiun Boon Lay pada Jalur Timur-Barat 6 Juli 1990 menandai selesainya jaringan dua tahun lebih awal dari jadwal. MRT Singapura kemudian bertahap berkembang. Termasuk S$1.2 milyar pengembangan Jalur Utara-Selatan melalui Woodlands yang melengkapi keseluruhan sistem dan diresmikan pada 10 Februari 1996. Konsep untuk mendekatkan jalur rel ke perumahan menghadirkan sistem LRT Singapura. Jalur LRT terhubung ke jalur SMRT. Pada 6 November 1999 jalur LRT pertama di Bukit Panjang mulai beroperasi. Pada 2002 stasiun Bandar Udara Changi dan Stasiun Expo ditambahkan pada jalur SMRT. Jalur Utara-Timur, yang dioperasikan oleh SBS Transit dan dibuka pada 20 Juni 2003 sebagai jalur rel otomatis penuh pertama di dunia. Kemudian, pada15 Januari 2006 setelah melakukan diskusi dengan masyarakat, Stasiun Buangkok dibuka. Jalur pengembangan Boon Lay, meliputi Stasiun Pioneer dan Stasiun Joo Koon mulai membuka layanan pada 28 Februari 2009. Selanjutnya pada 28 Mei 2009 bagian pertama dari Jalur Lingkaran (Circle Line) dari Stasiun Marymount ke Stasiun Bartley dibuka. Selanjutnya 9 stasiun dari Stasiun Tai Seng ke Stasiun Dhoby Ghaut dibuka pada 17 April 2010.

Sistem operasional SMRT dapat dikatakan sebagai sistem transportasi massal terbaik di dunia dilihat dari kebersihan dan pelayanannya. Aksesibilitas sistem transportasi SMRT sangat mudah dicapai oleh masyarakat. SMRT bekerja dan didukung oleh moda transportasi lain, seperti bus dan taxi. Dapat dikatakan bahwa semua jaringan stasiun SMRT sudah terintegrasi dengan jaringan transportasi yang lain. Dari segi ini, pemerintah Singapura sudah memasukkan salah satu konsep transportasi yaitu kemudahan atau aksesibilitas. Sebagian rute, terutama di tengah kota, dibuat di bawah tanah (underground), dan sisanya adalah elevated. Di jam sibuk terutama di stasiun interchange, kereta bisa sangat ramai dan penuh oleh masyarakat yang akan berganti menuju ke stasiun yang berbeda. Jam sibuk dari jaringan SMRT terjadi pada pukul 08.00-09.00 pagi waktu setempat dan pukul 17.00-19.00 malam waktu setempat. Tarif perjalanan dengan SMRT dihitung berdasarkan jarak atau jumlah stasiun yang dilewati. Untuk jarak satu stasiun dikenakan SGD 0.60 hingga SGD 0.80. Untuk jarak yang terjauh dikenakan biaya hingga SGD 2. Penumpang boleh bebas tukar line asalkan belum keluar dari ticket gate. Untuk memudahkan informasi rute dan jaringan transportasi SMRT, pemerintah Singapura telah menyiapkan peta rute SMRT. Peta ini dipasang di tempat-tempat umum, papan informasi, dan pintu masuk di setiap stasiun. Setiap jalur SMRT diberi warna berbeda di dalam peta sehingga mudah dibedakan. Warna kuning atau circle line adalah jalur terbaru dan belum beroperasi penuh (garis putus-putus berarti jalur tersebut belum beroperasi).





Banyak masyarakat Singapura, terutama wisatawan asing, yang memanfaatkan sistem transportasi SMRT ini. Ketepatan waktu merupakan salah satu kelebihan dari jaringan transportasi SMRT. SMRT memiliki jadwal yang sudah diatur sehingga setiap waktu tertentu, penumpang dapat memasuki SMRT untuk berganti stasiun. Ketepatan waktu ini dapat diaplikasikan karena jalur atau rute SMRT sudah terintegrasi satu sama lain dan juga sudah terhubung dengan stasiun yang lain. Manajemen pengelolaannya sangat professional dapat dilihat dari kemudahan wisatawan asing untuk mendapatkan rute perjalanan SMRT. Di Singapura, SMRT melayani jarak 120 km dengan 85 stasiun, Light Rail Transit (LRT) melayani 29 km dan 43 stasiun yang setiap harinya melayani 1,9 juta penduduk. Sistem ini didukung oleh 4.000 armada bus dengan 370 rute melayani 3,1 juta penduduk serta 24.000 unit taksi yang melayani 900 ribu penduduk. Jika dilihat dari data di atas, SMRT dibangun bukan hanya memperhatikan jaringan transportasi SMRT tersebut, melainkan juga memperhatikan pembangunan jaringan transportasi lain yang mendukung SMRT. Secara singkat, jika penumpang ingin melakukan pergerakan dengan SMRT, penumpang dapat menuju ke stasiun SMRT dengan bus maupun taxi. Begitu sampai di stasiun, penumpang dapat menaiki SMRT dan berpindah stasiun. Untuk menuju tempat yang diinginkan, penumpang dapat menaiki bus atau taxi kembali begitu keluar dari stasiun SMRT. Sistem transportasi yang baik ini sangat didukung dengan pengembangan tata guna lahan. Pemerintah Singapura memisahkan pusat ekonomi dengen pemukiman penduduk. Tentunya, pemerintah Singapura serius melakukan hal tersebut dan juga bekerja sama dengan investor yang tertarik dengan pengembangan SMRT.





Secara umum, SMRT dan fasilitas transportasi lain telah mampu untuk memenuhi kebutuhan transportasi masyarakat Singapura. Namun, ini tidak membuat pemerintah Singapura membatalkan rencana pengembangan SMRT. Selain menambah dan memperbaharui armada SMRT, rencana pengembangan SMRT akan lebih difokuskan untuk penambahan julah rute dan evaluasi rute-rute yang telah berjalan. Evaluasi rute yang telah berjalan bertujuan untuk melihat seberapa jauh efektif rute tersebut untuk melayani permintaan transportasi. Selain itu, dilihat juga sisi ekonomi jika rute tersebut tetap beroperasi. Rencana pengembangan lainnya adalah penambahan fasilitas pada stasiun SMRT. Integrasi antar stasiun juga akan lebih ditingkatkan untuk memastikan waktu kedatangan dan keberangkatan dari kereta SMRT. Integrasi antar moda transportasi juga akan diperhatikan agar semua fasilitas transportasi dapat menunjang satu sama lain.



10 komentar:

tasyur mengatakan...

Kenapa Indonesia begitu jauh2 belajar sampai Bogota (utk Busway ) segala kalau didekatnya ( Singapura ) ada Moda Transportasi Massal terbaik di dunia ???? Edan

bliyanbelog mengatakan...

hehehehe.... biar bisa jauh jalan2-nya tuh...

Anonim mengatakan...

biaya bikin MRT jauh lebih gede dari bikin busway

Rahasia Menjadi Pengusaha Dan Milyarder Dari Bisnis mengatakan...

Rahasia Bins yang akan membuat Anda menjadi Dahsyat..
Revolusi kehidupan dan finansial Anda dengan eBook Dahsyat ini...
Segera Klik Disini, untuk Mengetahui cara Termudahnya!

Admin mengatakan...

ENGLISH TUTORS URGENTLY NEEDED!!!

A Fast Growing National English Language Consultant is hunting for :

=> ENGLISH TUTORS <=

Qualifications:

1. Competent, experienced, or fresh graduate
2. Proficient in English both spoken & written
3. Friendly, Communicative, & Creative

Placement :
=> Batam - Pekanbaru -Balikpapan - Banjarmasin - Palembang - Medan - Makassar

Send your application and resume to : easyspeak.recruitment@gmail.com as soon as possible.

Visit http://www.easyspeak.co.id for further information.

Anonim mengatakan...

Indonesia selalu melihat terlalu jauh sehingga tidak pernah terealisasi

Anonim mengatakan...

kebanyakan studi bandingnya jadi terus dibanding-bandingkan............ mana yang bisa menghasilkan korupsi lebih banyak

Anonim mengatakan...

Sedih juga, monorel nya Bang yos terkatung-katung,....

Anonim mengatakan...

DI INDONESIA SUSAH SEKALI UNTUK DITERAPKAN SISTEM TRANSPORTASI SEPERTI MRT, KARENA MENTAL RAKYATNYA KLEPTO N PERUSAK. SEANDAINYA ADA MRT DI INDONESIA PASTI BARU USIA 1 BULAN DIBUKA SUDAH JEBOL SEMUA TUH MRT.

Joe scored mengatakan...

keren abis merasakan MRT waktu disingapura. cepat, tepat, dan murah indonesia harus belajar dari negara tetangga sebelah tersebut. semoga bisa terealisasi MRT di indonesia aminn.

Poskan Komentar