Thursday, May 7, 2009

Harapan terhadap Pemimpin Masa Depan Indonesia

Ada anggapan yang mengatakan bahwa pemimpin itu tidak diciptakan, namun dilahirkan. Anggapan ini tentu saja membuat sebagian besar masyarakat berpikir bahwa menjadi seorang pemimpin itu tidaklah mudah. Butuh keahlian lebih untuk menjadi seorang pemimpin yang dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat. Namun, jika kita kaji secara lebih mendalam, kurangnya regenerasi pemimpin di kelompok-kelompok masyarakat disebabkan karena hilangnya kesadaran dan kemampuan generasi muda untuk meyakinkan dirinya sebagai pemimpin. Apalagi, ditambah dengan sistem yang selalu mengagungkan kaum tua dengan alasan memiliki pengalaman yang lebih, hancurlah harapan generasi muda untuk muncul sebagai sebuah sistem kepemimpinan yang baru. Padahal, bukan tidak mungkin, generasi kepemimpinan yang didominasi oleh generasi muda memiliki pemikiran-pemikiran yang lebih kreatif dan optimis dibandingkan dengan pemikiran dari kaum tua. Hal ini tentu saja mengelompokkan masyarakat ke dalam dua bagian. Bagian yang pro kaum muda dan bagian yang pro kaum tua. Masyarakat yang setuju dengan kepemimpinan kaum muda tentu saja mengharapkan suatu kebijakan yang revolusioner dan kebijakan yang lebih menghargai masyarakat kecil. Kelompok pro kaum tua lebih mengutamakan kebijakan yang didasarkan oleh pengalaman dalam pemerintahan yang lebih dimiliki oleh pemimpin yang telah berumur. Namun, jurang pemisah antara kepemimpinan genarasi muda dan generasi tua dapat dipisahkan dengan melihat permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa ini. Hal ini lebih dimaksudkan untuk melihat seperti apakah pemimpin yang sesuai dengan harapan masyarakat Indonesia.
Sebagai negara yang sedang berkembang, Indonesia memiliki barbagai masalah mendasar yang harus segera diselesaikan. Kemiskinan dan kelaparan terus menghantui semua daerah di tanah air yang subur ini. Bidang pendidikan yang terus menuai kecaman mulai dari kesejahteraan guru dan dosen yang tidak diperhatikan, sarana prasarana yang ala kadarnya, sampai mulai masuknya anarkisme ke dalam sekolah dan kampus. Belum lagi masalah politik yang semakin hari semakin marak dengan banyaknya politisi yang menjadikan arena politik nasional sebagai tempat untuk mencari kesenangan pribadi dan kelompoknya. Masalah yang ada di bangsa ini semakin berat dengan adanya krisis global yang dihadapi oleh dunia perekonomian. Digoyang sedikit, bukan tidak mungkin bangsa ini akan roboh karena tidak mampu menahan beratnya masalah sendiri. Sebenarnya, permasalahan bangsa ini muncul dari dalam diri sendiri. Bangsa ini terlalu mengagungkan sistem perekonomian yang selalu mengharapkan bantuan asing. Bantuan inilah yang nyatanya membawa bangsa ini di jalur krisis. Terlebih lagi, kebijakan soal pertanian, perdagangan, dan perindustrian dibuat untuk menarik lebih banyak investor penanam modal tanpa memperhatikan kepentingan masyarakat banyak yang terlibat di tiga sektor vital tersebut. Bangsa ini seharusnya sudah bangun dari tidurnya yang terlalu lelap dan mulai melihat sekelilingnya. Masyarakat di negara lain sudah mulai berpikir dan bertindak selayaknya manusia yang hidup di zaman globalisasi yang sangat mengutamakan kompetensi dan kemampuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan, masyarakat kita lebih tertarik dengan masalah-masalah sosial yang tidak akan habis permasalahannya jika dibahas satu persatu. Perselingkuhan, perjudian, dan pencurian seolah-olah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat kita yang tertalu terikat pada hegemonitas sosial. Jika tidak diobati sesegera mungkin, penyakit bangsa ini akan menjadi semakin bartambah berat dan susah untuk disembuhkan. Bangsa ini juga seharusnya sadar memiliki sumber daya manusia yang besar. Sumber daya ini dapat dimanfaatkan untuk membangun bangsa secara keseluruhan. Membangun tidak hanya berdasarkan keadaan sekarang, namun juga memikirkan keadaan selanjutnya.
Masalah yang begitu banyak melanda bangsa ini sebenarnya disebabkan oleh berbagai macam faktor. Kurangnya rasa nasionalisme masyarakat bangsa ini, ketidakpedulian petinggi pemerintahan dengan kondisi masyarakat di lapangan, dan rendahnya keterlibatan masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pemerintahan. Namun, diantara semua faktor tersebut salah satu faktor yang paling berperan tentu saja adalah faktor regenerasi kepemimpinan. Kepemimpinan di negeri ini masih sangat memprihatinkan, yang diperhatikan hanyalah kekuasaan semata. Kekuasaan ini hanya dimanfaatkan segelintir kelompok untuk mencapai tujuannya tanpa memikirkan keadaan masyarakat dalam cakupan yang lebih luas. Bangsa ini masih sulit untuk melahirkan seorang pemimpin yang revolusioner. Seorang pemimpin yang berani mendobrak sistem kepeminpinan yang hanya memikirkan kekuasaan belaka. Seorang pemimpin yang berani untuk merubah tatanan sistem pemerintahan yang tidak lagi memikirkan tentang kekuasaan, tetapi lebih berorientasi dalam pengembangan jati diri bangsa secara keseluruhan. Patut kita sadari bersama bangsa ini perlu memikirkan pemimpin untuk generasi selanjutnya. Perlu adanya suatu mata rantai kepemimpinan yang terus berlanjut agar setiap generasi memiliki hak sejarah yang sama dalam membangun bangsa ini. Sudah saatnya bangsa ini melahirkan pemimpin-pemimpin potensial yang dapat mengeluarkan pendapat yang benar-benar menyentuh kepentingan masyarakat luas.
Banyak kriteria yang dapat diungkapkan untuk menggambarkan seperti apa pemimpin yang sesuai untuk menyelesaikan permasalahan di negeri ini. Jujur, bijaksana, dan ungkapan-ungkapan manis lainnya mungkin sesuai untuk pemimpin yang sesuai dengan harapan. Namun, permasalahan mendasar bangsa ini tidak hanya dapat diselesaikan dengan bertindak jujur dan bijaksana. Perlu suatu kekuatan yang lebih untuk meyakinkan segenap komponen bangsa ini agar segera sadar bahwa bangsa ini memiliki kesempatan untuk bangkit dan berdiri di bawah kakinya sendiri. Pemimpin di masa depan haruslah memiliki kesadaran pribadi bahwa dirinya dilahirkan untuk berkorban. Berkorban untuk kepentingan sosial masyarakat luas. Pemimpin harapan haruslah sadar memiliki tanggung jawab yang besar. Tanggung jawab ini harus dibuktikan dengan tindakan yang nyata, bukan hanya dengan ucapan-ucapan manis yang kerap disampaikan kepada masyarakat. Sebuah tanggung jawab yang akan dilihat oleh seluruh konstituen yang telah memilihnya. Selain itu, pikiran, perkataan, dan perbuatan seorang pemimpin haruslah mencerminkan manusia yang semestinya. Manusia yang sadar akan tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin besar. Di samping itu, seorang calon pemimpin tidak boleh buta dan tuli untuk melihat dan mendengar aspirasi masyarakat. Seorang pemimpin harus selalu berada di tengah dan memberikan pemahaman mengenai kondisi bangsa yang sebenarnya. Memang, dalam keadaan bangsa yang serba sulit seperti sekarang ini, harapan masyarakat terhadap kriteria calon pemimpin sangatlah beragam. Hampir semua pendapat tertuju pada pemimpin dengan sifat-sifat yang sempurna. Seorang calon pemimpin tidaklah harus memiliki kesempurnaan dalam dirinya. Namun, yang jauh lebih penting bahwa seorang calon pemimpin haruslah dapat memaksimalkan segala kemampuannya untuk meyakinkan masyarakat. Terlebih lagi, sangat sulit untuk menentukan gaya kepemimpinan yang sesuai untuk keadaan bangsa ini. Masalah yang sangat beragam membawa bangsa ini pada ketidakpercayaan terhadap kepemimpinan nasional. Pengaruh-pengaruh pemerintahan pada masa lalu masih menghiasi keadaan bangsa ini. Pemimpin masa depan haruslah sadar bahwa bangsa ini masih diselimuti trauma masa lalu. Pengalaman kepemimpinan menjadi keterampilan wajib yang harus dimiliki. Pengalaman akan memberikan gambaran awal mengenai kebijakan-kebijakan pemerintahan yang akan diambil. Pengalaman dapat menghindarkan seorang calon pemimpin pada pengambilan keputusan yang salah. Dalam hal ini, pengalaman menjadi salah satu faktor yang penting. Pengalaman menjadi satu keuntungan jika ditambah dengan memiliki sikap inspirator dan juga inovatif. Permasalahan bangsa ini tidak dapat diselesaikan dengan solusi yang sudah ada. Perlu adanya inovasi dan kreasi kebijakan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Kebijakan-kebijakan yang telah dibuat harus sesuai dengan kondisi permasalahan yang dihadapi. Permasalahan bangsa ini terlalu beragam. Butuh kebijakan yang mengarah pada pembaharuan.
Bangsa ini harus memilih pemimpin harapan untuk masa depan yang sesuai dengan kondisi permasalahan yang tengah dihadapi jika ingin segera bangkit dan melakukan perubahan. Gaya kepemimpinan yang mengagungkan pengalaman dari kaum tua dan disertai dengan jiwa inspirator dan kreatif dari kaum muda dapat menjadi salah satu pilihan untuk menjawab permasalahan kepemimpinan nasional. Pengalaman dibutuhkan untuk merumuskan berbagai kebijakan agar tidak keluar dari jalur yang telah ditetapkan. Sedangkan, jiwa inspirator dan kreatif diperlukan untuk menghasilkan kebijakan-kebijakan revolusioner yang dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang tengah dihadapi oleh bangsa ini. Sebuah kebijakan yang tidak hanya berpikir tentang kekuasaan semata, namun lebih mengutamakan kebaikan bagi masyarakat luas. Diharapkan dengan adanya perpaduan gaya kepemimpinan antara kaum tua dan kaum muda, tidak akan ada lagi jurang pemisah sistem atau gaya kepemimpinan nasional. Tidak akan ada lagi istilah bagi-bagi kekuasaan. Semua ini ditujukan untuk membawa bangsa ini keluar dari krisis sistem kepemimpinan nasional. Keluar dari berbagai macam permasalahan yang selama ini selalu mendera masyarakat bangsa ini. Semoga!

0 komentar:

Post a Comment